KABARBURSA.COM – Prospek margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mulai menghadapi tekanan di 2026. CGS International dalam risetnya menyampaikan, NIM BBNI diperkirakan mengalami kompresi sekitar 23 basis poin secara tahunan.
Kompresi ini menjadi sinyal awal terhadap perubahan struktur profitabilitas bank ke depan. Apalagi diketahui, tekanan terhadap NIM ini dipicu oleh pelemahan yield aset. Artinya, ada penurunan imbal hasil dari penyaluran kredit dan aset produktif lainnya.
Dalam kondisi ini, kemampuan bank untuk menjaga spread bunga menjadi lebih terbatas, terutama ketika biaya dana tidak mengalami penurunan yang sejalan. Akibatnya, situasi tersebut membuat ruang ekspansi margin menjadi semakin sempit.
Tidak hanya soal NIM yang melemah atau yield yang turun, CGS International juga menyoroti potensi kenaikan biaya kredit atau cost of credit yang dapat menambah tekanan terhadap laba bersih.
Di sini, kombinasi antara penyempitan margin dan peningkatan biaya risiko mendorong revisi turun terhadap estimasi laba per saham (EPS) BBNI untuk periode 2026 hingga 2027. Penurunannya berkisar antara 5,9 persen hingga 8,8 persen.
Penyesuaian ini mencerminkan adanya perubahan ekspektasi terhadap kemampuan bank dalam menjaga profitabilitas di tengah dinamika pasar.
Potensi Pertumbuhan Kredit dan Target Harga
Meski menghadapi tekanan pada sisi margin, prospek pertumbuhan kredit BBNI dinilai masih tetap terjaga. Segmen kredit korporasi dan kredit menengah disebut menjadi pendorong utama ekspansi, terutama setelah menunjukkan pemulihan pada awal tahun.
Aktivitas pada segmen ini menjadi salah satu penopang pertumbuhan, meskipun tidak sepenuhnya mengimbangi tekanan yang terjadi pada margin.
Sejalan dengan revisi proyeksi tersebut, CGS International juga menurunkan target harga saham BBNI menjadi Rp5.200 dari sebelumnya Rp5.300. Namun, rekomendasi terhadap saham ini tetap dipertahankan pada level add, yang artinya secara valuasi BBNI masih berada pada level yang dianggap menarik dalam perspektif jangka menengah.
Dividen Yield 9,57 Persen
Pada sisi valuasi, saham BBNI saat ini diperdagangkan dengan P/E ratio sekitar 6,79 kali dan dividend yield di kisaran 9,57 persen. Kombinasi ini mencerminkan posisi valuasi yang relatif rendah dengan imbal hasil yang tinggi. BBNI harga bergerak dalam rentang Rp3.640 hingga Rp3.720, dengan pola penurunan bertahap sejak awal perdagangan.
Struktur pergerakan intraday menunjukkan tekanan jual yang muncul secara konsisten di setiap fase penguatan. Kenaikan yang terjadi di awal sesi tidak mampu bertahan, karena segera diikuti oleh penawaran baru yang menahan laju harga.
Pola ini membentuk pergerakan yang cenderung menurun secara bertahap, tanpa disertai lonjakan volume yang signifikan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai mengakomodasi perubahan ekspektasi terhadap margin dan profitabilitas BBNI. Level Rp3.640 menjadi titik terendah yang diuji dalam sesi perdagangan, sementara area Rp3.700 yang sebelumnya menjadi acuan kini berfungsi sebagai batas atas jangka pendek.
Pergerakan ini mencerminkan proses penyesuaian yang berlangsung secara bertahap terhadap sentimen fundamental yang berkembang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.