KABARBURSA.COM — Wall Street bangkit pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026. Kenaikan yang dipimpin saham teknologi, terutama Nvidia, membuat indeks utama menutup kerugian yang sempat terjadi sejak awal pekan.
Dilansir dari AP, indeks S&P 500 menguat 0,8 persen, mencatatkan kenaikan dua hari beruntun setelah sempat tertekan pada awal pekan ketika investor memilah mana emiten yang benar-benar diuntungkan dari ledakan kecerdasan buatan dan mana yang berisiko tertinggal. Dow Jones Industrial Average naik 307 poin atau 0,6 persen, sementara Nasdaq melonjak 1,3 persen.
Di balik penguatan itu, Nvidia kembali menjadi tumpuan pasar. Saham perusahaan pembuat chip yang menjadi pusat revolusi AI tersebut naik 1,4 persen menjelang rilis laporan keuangan kuartalan yang dinanti investor. Setelah perdagangan ditutup, Nvidia melaporkan laba yang kembali melampaui ekspektasi analis. Perusahaan itu juga memperkirakan pendapatan kuartal ini sekitar USD78 miliar atau sekitar Rp1.314 triliun, jauh di atas proyeksi analis yang sebelumnya di bawah USD72,3 miliar atau sekitar Rp1.218 triliun.
Posisi Nvidia kini menjadi saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Amerika Serikat. Dengan bobot sebesar itu, setiap pergerakan sahamnya memberi pengaruh paling besar terhadap S&P 500 dibandingkan emiten lain.
Laporan keuangan Nvidia telah lama dipandang sebagai barometer sentimen pasar. Bukan hanya karena ukurannya, tetapi karena besarnya pengaruh euforia AI terhadap pergerakan saham dalam beberapa tahun terakhir.
Demam AI sempat membawa indeks saham Amerika mencetak rekor demi rekor. Harapannya sederhana, teknologi ini diyakini mampu merevolusi ekonomi dan meningkatkan produktivitas. Namun belakangan muncul pertanyaan, apakah belanja besar perusahaan seperti Alphabet dan Amazon untuk membeli chip Nvidia dan perangkat pendukung lainnya akan benar-benar menghasilkan imbal balik yang sepadan.
Jika belanja itu akhirnya melambat, Nvidia akan menjadi pihak yang pertama merasakan dampaknya. Kekhawatiran tersebut membuat investor mulai lebih berhati-hati, terutama terhadap sektor-sektor yang bisa tergeser oleh pesaing berbasis AI. Industri perangkat lunak, logistik truk hingga jasa hukum sempat mengalami tekanan jual mendadak akibat sentimen ini.
Di luar isu AI, pasar juga dibayangi kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden Donald Trump untuk menggantikan tarif sebelumnya yang dibatalkan Mahkamah Agung. Darrell Cronk, chief investment officer untuk Wealth & Investment Management di Wells Fargo, menilai kekhawatiran itu memang nyata. Namun ia mengingatkan investor agar tidak terpaku pada sentimen negatif semata.
“Walau kekhawatiran itu nyata, kami percaya investor sebaiknya menyeimbangkannya dengan tren positif yang mungkin kurang mendapat perhatian di tengah derasnya berita negatif,” ujarnya.
Laba Kuat Topang Saham Non-Teknologi
Di luar raksasa teknologi, sejumlah emiten juga mencatatkan kinerja solid. Cava Group, jaringan restoran cepat saji Mediterania, melonjak 26,4 persen setelah melaporkan laba dan pendapatan yang melampaui ekspektasi analis. Untuk pertama kalinya, pendapatan tahunan fiskalnya menembus USD1 miliar atau sekitar Rp16,85 triliun, naik 22,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Axon Enterprise, produsen Taser dan kamera tubuh dengan asisten suara berbasis AI, melesat 17,6 persen berkat kinerja yang juga melampaui perkiraan pasar. Kenaikan itu membantu menahan tekanan dari saham First Solar yang merosot 13,6 persen setelah membukukan laba di bawah ekspektasi analis.
Sementara itu, Lowe’s turun 5,6 persen meski mencatatkan laba lebih tinggi dari perkiraan. Investor justru menyoroti proyeksi laba 2026 yang dinilai kurang menggembirakan. CEO Marvin Ellison mengatakan pasar perumahan masih berada dalam tekanan, kondisi yang juga menyeret saham pesaing seperti Home Depot dan sejumlah emiten pengembang perumahan.
Secara keseluruhan, S&P 500 naik 56,06 poin ke level 6.946,13. Dow Jones bertambah 307,65 poin menjadi 49.482,15, sedangkan Nasdaq melonjak 288,40 poin ke 23.152,08. Penguatan juga terlihat di bursa Eropa dan Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 2,2 persen, sementara Kospi Korea Selatan menguat 1,9 persen.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun naik tipis ke 4,05 persen dari sebelumnya 4,04 persen. Kenaikan Wall Street kali ini menunjukkan bahwa di tengah kekhawatiran soal tarif dan potensi gelembung AI, laporan laba yang kuat masih mampu menjadi penopang sentimen. Untuk sementara, pasar memilih melihat sisi terang dari revolusi teknologi yang belum selesai.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.