KABARBURSA.COM – Di tengah tekanan yang masih membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pergerakan saham-saham defensif mulai kembali diperhatikan pelaku pasar. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Dalam beberapa pekan terakhir, INDF menunjukkan daya tahan relatif dibandingkan saham-saham siklikal yang lebih sensitif terhadap pelemahan indeks.
Secara teknikal, pergerakan INDF mencerminkan fase konsolidasi yang cukup jelas. Setelah tekanan turun sejak akhir kuartal ketiga 2025, harga saham ini bergerak mendatar dan membentuk base di kisaran 6.600 hingga 6.900.
Area tersebut menjadi zona penyeimbang antara tekanan jual dan minat beli, di mana setiap upaya penurunan cenderung tertahan dan tidak berkembang menjadi tren turun baru. Struktur ini biasanya muncul pada saham dengan karakter defensif, ketika pelaku pasar mulai mengurangi risiko namun tetap mencari instrumen yang stabil.
Menariknya, fase konsolidasi INDF berlangsung di tengah pelemahan IHSG yang lebih luas. Hal ini menegaskan bahwa tekanan jual pada INDF relatif lebih terbatas. Saham ini tidak menunjukkan volatilitas ekstrem, melainkan bergerak dalam rentang sempit dengan volume yang masih terjaga.
Lonjakan volume yang muncul pada beberapa sesi terakhir mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas transaksi, terutama saat harga mendekati batas atas area konsolidasi.
Dari sudut pandang struktur harga, area sekitar 7.000 hingga 7.200 menjadi kunci penting. Selama harga masih berada di bawah zona tersebut, INDF dapat dikatakan masih berada dalam fase base building.
Namun, apabila harga mampu menembus dan bertahan di atas 7.200 dengan dukungan volume, struktur konsolidasi berpotensi beralih menjadi fase rebound jangka pendek. Di atas level itu, ruang teknikal berikutnya terbuka hingga area sekitar 7.450, yang bertepatan dengan area suplai kuat dan kedekatannya dengan rata-rata pergerakan jangka panjang atau MA200.
Konteks ini membuat INDF menarik dibaca sebagai representasi saham defensif di tengah pasar yang belum sepenuhnya pulih. Karakter bisnis yang relatif stabil, ditopang konsumsi domestik, membuat tekanan fundamentalnya tidak sedalam emiten yang bergantung pada siklus ekonomi atau sentimen global.
Dalam kondisi pasar yang masih berhati-hati, saham seperti INDF sering kali diperlakukan sebagai tempat parkir dana sementara, terutama ketika investor mengurangi eksposur pada saham berisiko tinggi.
Secara keseluruhan, data pergerakan harga dan volume menunjukkan bahwa saham defensif seperti INDF masih berada dalam radar pasar. Selama fase konsolidasi ini bertahan dan tidak ditembus ke bawah, struktur harga mencerminkan ketahanan relatif di tengah pelemahan IHSG.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada apakah tekanan beli mampu mendorong harga keluar dari zona base tersebut, yang akan menjadi penanda apakah saham defensif ini hanya bertahan, atau mulai kembali menarik sebagai peluang rebound di tengah pasar yang belum sepenuhnya kondusif.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.