Logo
>

Prediksi IHSG Oversold usai Anjlok 6,61 Persen, Ada Peluang Rebound?

Tekanan global dan domestik belum mereda, dari konflik geopolitik hingga pelemahan rupiah.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Prediksi IHSG Oversold usai Anjlok 6,61 Persen, Ada Peluang Rebound?
IHSG diproyeksi bergerak terbatas di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas cenderung melemah pada perdagangan pekan ini, 27–30 April 2026, setelah mengalami koreksi tajam sebesar 6,61 persen dalam sepekan sebelumnya dan ditutup di level 7.129,49 pada Jumat, 24 April 2026.

Perdagangan pekan ini juga berlangsung lebih singkat menjadi empat hari akibat libur Hari Buruh, sehingga potensi volatilitas diperkirakan tetap tinggi di tengah tekanan eksternal dan domestik yang belum mereda.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari eskalasi konflik geopolitik hingga pelemahan nilai tukar rupiah.

"Kondisi eksternal tersebut juga berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar Rupiah yang terdepresiasi drastis hingga menyentuh All Time Low di Rp17.315/USD akibat derasnya aliran modal keluar (outflow) yang masif dari pasar keuangan domestik," kata Brigita dalam keterangan tertulis yang diterima Kabarbursa.com pada Senin, 27 April 2026.

Ia menambahkan, tekanan juga datang dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Kondisi ini memicu aksi jual bersih investor asing yang secara akumulatif telah mencapai Rp42,8 triliun secara year-to-date (ytd).

Arus keluar dana asing tersebut terutama menekan saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chips, yang selama ini menjadi penggerak utama indeks. Akibatnya, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turut menyusut sebesar 6,59 persen menjadi Rp12.736 triliun.

Secara sektoral, pelemahan paling dalam terjadi pada sektor teknologi dan keuangan yang sensitif terhadap fluktuasi suku bunga dan nilai tukar. Sejumlah saham seperti BREN, BBCA, DSSA, BRPT, dan FILM tercatat menjadi pemberat utama indeks sepanjang pekan lalu.

Menurut Brigita, kondisi ini mencerminkan dominasi sentimen risk-off di pasar keuangan global, di mana investor cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang lebih aman.

"Selama stabilitas geopolitik global belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan dan belum adanya sentimen positif domestik maka investor disarankan untuk tetap konservatif, memperhatikan level support psikologis berikutnya serta memantau pergerakan yield obligasi dan harga komoditas energi sebagai indikator risiko lanjutan," tutur dia.

Dari sisi global, ketidakpastian masih dipicu oleh belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, yang meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dunia, khususnya melalui jalur strategis Selat Hormuz. Kondisi ini membuat harga energi tetap tinggi dan berpotensi menahan laju penurunan inflasi global.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat pun kembali mengarah lebih hawkish, seiring tingginya inflasi berbasis energi. Hal ini tercermin dari yield US Treasury yang bertahan di level tinggi dan memberikan tekanan tambahan bagi aset berisiko, terutama saham growth.

Di tengah situasi tersebut, investor global cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi, sehingga memperbesar tekanan pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, tekanan datang dari kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Dex Series yang berlaku sejak 18 April 2026. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan inflasi, khususnya pada sektor transportasi dan logistik, serta menekan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, pelemahan rupiah ke level Rp17.315 per dolar AS mendorong Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 April 2026. Kebijakan ini menunjukkan fokus pada stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.

Bank Indonesia (BI) juga melakukan intervensi di pasar valuta asing dan mengoptimalkan instrumen moneter guna meredam volatilitas. Namun, risiko imported inflation dan potensi capital outflow masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Analis Memprediksi IHSG di Area Oversold?

Dalam kondisi tersebut, Brigita menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh dinamika global dan efektivitas kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas.

Secara teknikal, IHSG saat ini berada di area oversold setelah menutup gap di kisaran 7.308–7.346, sehingga membuka peluang terjadinya technical rebound jangka pendek.

"Fokus pasar kini tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100–7.150. Apabila level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup gap berikutnya di area 7.022–7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917," ujar dia.

Meski demikian, ruang penguatan diperkirakan terbatas karena tren jangka pendek masih berada dalam fase bearish. Oleh karena itu, strategi trading yang disarankan adalah tetap selektif dan konservatif.

Dari sisi sektoral, sektor energi diprediksi tetap menjadi penopang utama seiring harga komoditas yang masih tinggi. Sektor transportasi dan logistik juga dinilai memiliki ketahanan di tengah volatilitas pasar.

Sementara itu, sektor siklikal dan konglomerasi yang telah mengalami tekanan dalam dinilai mulai menarik untuk akumulasi bertahap, seiring kondisi harga yang sudah berada di area oversold.

Melalui kombinasi sentimen global yang masih negatif dan tekanan domestik yang belum mereda, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada, mengelola risiko dengan disiplin, serta memanfaatkan peluang technical rebound secara selektif dalam jangka pendek.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".