KABARBURSA.COM — Bursa Asia kembali masuk zona merah setelah kombinasi dua kabar buruk datang bersamaan dari Amerika Serikat. Inflasi Negeri Paman Sam yang masih panas dan serangan militer baru Washington ke Iran membuat investor memilih menyingkir dari aset berisiko.
Dilansir dari Reuters, Kamis, 11 Juni 2026, indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang yang dihitung MSCI turun 1 persen pada perdagangan Kamis. Bursa Taiwan terkoreksi 1,5 persen, sementara indeks Nikkei Jepang juga melemah dengan besaran yang sama.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertengger di zona merah pada sesi I perdagangan setelah melemah 1,91 persen ke level 5.789.
Tekanan datang setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam Iran dengan serangan baru apabila tidak tercapai kesepakatan damai. Tak lama kemudian, militer AS mengonfirmasi dimulainya serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Iran membalas dengan mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Respons tersebut langsung mengerek harga minyak dunia. Minyak Brent pada perdagangan Asia melonjak 1,6 persen menjadi USD94,55 per barel atau sekitar Rp1,61 juta per barel.
Ketegangan geopolitik itu datang saat pasar keuangan global sedang rapuh. Selama dua bulan terakhir, banyak saham teknologi dan kecerdasan buatan di Asia terbang tinggi karena ekspektasi keuntungan yang sangat optimistis. Kini investor mulai mempertanyakan apakah harapan tersebut masih realistis.
“Melihat valuasi yang sudah sangat tinggi, ekspektasi bullish yang ekstrem ini menciptakan kondisi yang rentan bagi momentum pasar di Korea Selatan, Taiwan, dan sektor teknologi Asia,” kata ahli strategi kuantitatif Asia Bernstein, Rupal Agarwal.
Menurutnya, mengurangi kepemilikan saham-saham tersebut merupakan langkah paling bijak di tengah ketidakpastian saat ini. “Memangkas posisi pada saham-saham ini adalah langkah yang paling bijaksana. Eskalasi kembali perang dapat mempercepat aksi jual tersebut,” ujarnya.
Di Korea Selatan, indeks KOSPI sempat berayun tajam sebelum akhirnya ditutup melemah 1,2 persen. Sebelumnya indeks itu bahkan sempat anjlok hingga 4,4 persen.
Sentimen negatif juga menghantam Wall Street. Pada perdagangan sebelumnya, indeks S&P 500 turun 1,6 persen sedangkan Nasdaq merosot 2 persen setelah data menunjukkan inflasi Amerika Serikat bulan lalu meningkat pada laju tercepat sejak April 2023.
Situasi ini membuat investor kembali menghitung kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve.
Berdasarkan FedWatch CME Group, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober kini mencapai 51,6 persen. Angka itu naik dari 50,1 persen sehari sebelumnya.
Di tengah gejolak pasar saham, dolar AS tetap menunjukkan kekuatannya. Mata uang tersebut bertahan di level tertinggi sejak Amerika Serikat dan Iran mulai membahas gencatan senjata pada awal April lalu.
Sementara itu, pasar kripto mulai menemukan pijakan setelah sempat terpukul aksi jual. Bitcoin naik 0,4 persen ke USD62.013,58 atau sekitar Rp1,05 miliar per koin. Ether ikut menguat 0,3 persen ke USD1.634,13 atau sekitar Rp27,78 juta per koin.
Investor kini menghadapi kombinasi yang selama ini paling ditakuti pasar. Perang yang kembali memanas, inflasi yang belum jinak, dan ancaman suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Jika ketiga faktor itu terus berjalan beriringan, tekanan terhadap pasar global berpotensi belum berakhir dalam waktu dekat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.