Logo
>

Rekomendasi Saham saat IHSG Masih Tertekan, Simak!

Tekanan global dan pelemahan rupiah masih membayangi, sementara posisi teknikal IHSG yang oversold membuka ruang rebound jangka pendek.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Rekomendasi Saham saat IHSG Masih Tertekan, Simak!
IHSG berada di area oversold dengan peluang rebound terbatas di tengah tekanan global. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak mixed dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah pada perdagangan pekan ini, 27–30 April 2026, di tengah dominasi sentimen risk-off global dan tekanan nilai tukar rupiah yang masih memicu arus keluar modal asing.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, mengatakan secara teknikal posisi IHSG saat ini sudah berada di area oversold setelah ditutup di level 7.129 pada akhir pekan lalu, sekaligus menutup gap di kisaran 7.308–7.346.

Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya technical rebound jangka pendek, meski ruang penguatannya dinilai masih terbatas karena tren jangka pendek yang masih bearish.

"Fokus pasar kini tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100–7.150. Apabila level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup gap berikutnya di area 7.022–7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917," kata Brigita dalam keterangan tertulis yang diterima Kabarbursa.com pada Senin, 27 April 2026.

Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, Brigita menilai rotasi sektor akan berlangsung lebih selektif, dengan sektor energi tetap menjadi penopang utama didorong oleh harga komoditas yang masih tinggi di tengah tensi geopolitik global. Selain itu, sektor transportasi dan logistik juga dinilai memiliki daya tahan di tengah volatilitas.

Sementara itu, saham-saham di sektor siklikal dan konglomerasi yang telah mengalami tekanan cukup dalam mulai membuka peluang akumulasi bertahap karena valuasi yang sudah berada di area oversold.

"Dalam menghadapi kondisi ini, investor disarankan untuk menerapkan strategi defensive dengan mengedepankan disiplin risiko, serta memprioritaskan saham-saham yang memiliki kekuatan relatif (relative strength) dan katalis fundamental yang kuat di tengah fluktuasi pasar yang masih tinggi," ujar dia.

Saham-saham Rekomendasi Pilihan IPOT

Sejalan dengan kondisi tersebut, IPOT  merekomendasikan sejumlah saham pilihan yang dinilai memiliki potensi trading menarik dalam jangka pendek.

Salah satu rekomendasi datang dari PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) yang bergerak di sektor pertambangan. Saham ini direkomendasikan buy pada area entry 805 dengan target price 900 dan stop loss di 765. 

Secara teknikal, DKFT masih berada dalam tren naik dengan pergerakan harga di atas EMA5 hingga EMA50. Selain itu, dalam sepekan terakhir tercatat adanya foreign inflow sebesar 4,8 miliar yang menjadi sinyal positif keberlanjutan tren uptrend.

Rekomendasi berikutnya adalah PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) dari sektor energi dan kimia. Saham ini direkomendasikan buy pada level entry 945 dengan target price 1.045 dan stop loss di 890. 

ESSA dinilai konsisten bergerak dalam tren naik dan mampu bertahan di atas area psikologis, didukung oleh arus masuk dana asing yang mencapai 200,3 miliar sejak awal April. Selain itu, kenaikan harga amonia global menjadi katalis positif yang memperkuat prospek saham ini.

Selanjutnya, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dari sektor ritel dan distribusi produk elektronik juga masuk dalam daftar rekomendasi. Saham ini disarankan buy pada entry 404 dengan target price 442 dan stop loss di 388. 

Secara teknikal, ERAA menunjukkan potensi melanjutkan tren naik dengan bertahan di atas EMA50 serta membentuk pola candle doji yang didukung oleh volume transaksi di atas rata-rata 20 hari.

Ada Rekomendasi Instrumen Reksa Dana

Selain saham individual, IPOT juga merekomendasikan instrumen reksa dana berbasis ETF yaitu Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (XIIC). 

Produk ini memiliki portofolio yang terdiversifikasi pada saham-saham sektor konsumsi dan berbasis ekonomi domestik yang dinilai lebih tahan terhadap tekanan eksternal.

ETF XIIC dinilai dapat menjadi alternatif investasi defensif di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi oleh tekanan arus keluar dana asing, khususnya dari sektor perbankan. 

Dengan fokus pada kekuatan domestik, instrumen ini tetap menawarkan peluang imbal hasil yang menarik tanpa terlalu bergantung pada dinamika global.

Menurut dia kondisi IHSG yang masih berada dalam tekanan namun mulai memasuki area oversold, strategi selektif dan disiplin manajemen risiko menjadi kunci utama bagi investor untuk memanfaatkan peluang trading jangka pendek di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".