Logo
>

Rekomendasi Strategi Pekan ini, IHSG Menanti Data Ekonomi

IHSG pekan ini diproyeksikan bergerak volatil. Rekomendasi strategi difokuskan pada data ekonomi, dinamika BEI–OJK, dan sentimen global.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Rekomendasi Strategi Pekan ini, IHSG Menanti Data Ekonomi
Data ini dinilai menjadi katalis penting bagi arah jangka pendek IHSG di tengah volatilitas yang masih tinggi akibat tekanan global dan domestik. (Foto: Dok. KabarBursa)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan perdagangan 2 hingga 5 Februari 2026 diperkirakan akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen makroekonomi dan dinamika kepemimpinan di otoritas pasar keuangan. 

    Selain itu, pelaku pasar menanti rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang secara historis diumumkan pada awal Februari. Data ini dinilai menjadi katalis penting bagi arah jangka pendek IHSG di tengah volatilitas yang masih tinggi akibat tekanan global dan domestik.

    Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, mengimbau trader dan investor untuk mencermati rilis data produk domestik bruto Indonesia karena berpotensi menjadi penentu arah pergerakan pasar dalam waktu dekat. Menurutnya, konsensus pasar saat ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,1 persen hingga 5,2 persen. 

    “Pasar berekspektasi ekonomi kita tumbuh solid di angka 5,1 persen sampai 5,2 persen. Jika angka resminya di atas ekspektasi, ini akan menjadi bensin tambahan bagi IHSG untuk tidak hanya sekadar mampir di level 9.000, tapi menjadikannya sebagai lantai baru atau support kuat,” ujar David, Senin, 2 Februari 2026.

    Selain faktor data ekonomi, reaksi pasar terhadap estafet kepemimpinan baru di Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan juga diperkirakan akan turut memengaruhi pergerakan IHSG sepanjang pekan ini. 

    Pergantian pucuk pimpinan di dua institusi kunci tersebut dinilai menjadi ujian awal bagi stabilitas dan kredibilitas pasar modal di mata investor domestik maupun global. Pasar akan mencermati sinyal kebijakan awal yang muncul, terutama terkait penguatan transparansi, tata kelola, dan kepercayaan investor.

    Merespons dinamika pasar yang masih fluktuatif, IPOT l merekomendasikan strategi trading pada saham-saham yang masih berada dalam tren naik. 

    Salah satu saham yang direkomendasikan adalah PT Wismilak Inti Makmur Tbk dengan kode saham WIIM, emiten sektor konsumer khususnya industri rokok. Pada harga saat ini di level 1.825, IPOT melihat WIIM berada dalam fase uptrend dengan potensi breakout area resistance di sekitar 1.870. 

    Target harga jangka pendek diproyeksikan di level 1.975 atau berpotensi memberikan imbal hasil sekitar 8,22 persen, dengan batas risiko atau stop loss di level 1.745 atau sekitar 4,38 persen di bawah harga masuk. Rasio risiko terhadap imbal hasil dinilai relatif atraktif di kisaran 1 banding 1,9.

    Rekomendasi berikutnya adalah PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk dengan kode saham JPFA yang bergerak di sektor agribisnis dan perunggasan. Pada harga saat ini di level 2.770, saham ini dinilai menarik karena sektor poultry diperkirakan masih memiliki prospek yang positif sepanjang 2026, salah satunya ditopang oleh faktor program Makan Bergizi Gratis. 

    Secara teknikal, pergerakan JPFA berada di area support rata-rata pergerakan 50 hari yang masih mampu dipertahankan, sehingga membuka peluang terjadinya pembalikan arah atau reversal. 

    Target harga diproyeksikan di level 3.090 atau setara potensi kenaikan sekitar 11,55 persen, dengan batas risiko di level 2.630 atau sekitar 5,05 persen. Rasio risiko terhadap imbal hasil berada di kisaran 1 banding 2,3.

    IPOT juga merekomendasikan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk dengan kode saham ULTJ yang bergerak di sektor konsumsi primer, khususnya produk susu dan minuman kemasan. Pada harga saat ini di level 1.505, saham ini dinilai memiliki peluang untuk breakout dari fase konsolidasi. Pergerakannya juga dinilai relatif lebih defensif terhadap sentimen eksternal seperti faktor MSCI. 

    Target harga jangka pendek diproyeksikan di level 1.600 atau setara potensi kenaikan sekitar 6,31 persen, dengan batas risiko di level 1.455 atau sekitar 3,32 persen. Rasio risiko terhadap imbal hasil berada di kisaran 1 banding 1,9.

    Selain saham individual, IPOT juga merekomendasikan instrumen reksa dana saham berbentuk exchange traded fund, yakni Premier ETF Indonesia Consumer dengan kode XIIC. Instrumen dalam seri Power Fund Series ini didukung oleh fundamental emiten-emiten sektor konsumsi yang dinilai solid dan memiliki prospek pertumbuhan yang relatif stabil di tengah fluktuasi pasar. 

    Dari sisi global, sentimen juga dipengaruhi oleh hasil rapat Federal Open Market Committee pada 29 Januari 2026 yang menegaskan keputusan bank sentral Amerika Serikat untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen. 

    Kebijakan tersebut mencerminkan sikap wait and see setelah tiga kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2025, seiring dengan kondisi ekonomi Amerika Serikat yang dinilai masih solid dengan pertumbuhan dan pasar tenaga kerja yang relatif stabil, meskipun tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.

    Melalui kombinasi katalis domestik dari rilis data GDP 2025 dan dinamika kepemimpinan baru di BEI dan OJK, serta sentimen global dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat, pelaku pasar diimbau untuk tetap selektif dan disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. 

    IPOT menilai peluang masih terbuka pada saham-saham bertren naik dan sektor konsumsi, namun volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi di tengah ketidakpastian pasar global. (*) 

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Desty Luthfiani

    Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

    Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

    Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

    Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".