KABARBURSA.COM – PT Daaz Bara Lestari Tbk, berkode saham DAAZ, berencana melakukan ekspensi agresif terhadap armadanya. Perusahaan menegaskan komitmen untuk memperbesar kapasitas bisnis melalu penambahan armada tugs ad barges, dua unit SPON, hingga satu tongkang minyak.
Adapun biaya untuk rencana agresif ini berasal dari penerbitan obligasi senilai Rp500 miliar. Tujuan dari ekspansi diketahui untuk memperkuat operasi anak usaha di segmen logistik energi dan komoditas.
Lantas, seberapa kuat keuangan DAAZ untuk aksi korporasi di 2026 ini?
Mengambil data keuangan DAAZ hingga September 2025, Perusahaan mencatat pendapatan sebesar Rp3,65 triliun, tumbuh 25,09 persen secara tahunan. Kenaikan ini mengindikasikan permintaan jasa logistik dan energi masih solid.
Tetapi, lonjakan pendapatan tersebut tidak berbanding lurus dengan laba bersih. Net income DAAZ anjlok 71,80 persen menjadi hanya Rp30,29 miliar. Begitu pula dengan margin bersih yang turun signifikan hingga 77,45 persen, dan kini berada di level 0,83 persen.
Tekanan ini terutama berasal dari beban operasional dan arus kas. Meskipun operating expense turun 12,88 persen menjadi Rp32,64 miliar, arus kas operasional justru mencatat angka negatif besar, yakni minus Rp420,87 miliar, merosot lebih dari 5.800 persen secara tahunan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan belum cukup mengimbangi kebutuhan modal kerja harian.
Arus kas dari investasi juga masih negatif, sementara arus kas pendanaan naik signifikan menjadi Rp533,69 miliar. Kondisi ini mencerminkan ketergantungan besar pada pembiayaan eksternal.
Aset Melimpah, EBITDA Turun Drastis
Dari sisi posisi keuangan, DAAZ ternyata memiliki total aset sebesar Rp5,99 triliun dengan ekuitas senilai Rp2,10 triliun. Kas dan setara kas berada di Rp812 miliar, tetapi net change in cash tercatat negatif Rp75,77 miliar.
Return on assets berada di 5,28 persen dan return on capital di 6,58 persen. Dua indikator ini menunjukkan kinerja efisiensi permodalan masih moderat di tengah eskalasi belanja modal. EBITDA perusahaan juga turun drastis 32,90 persen menjadi Rp173,36 miliar dan memberi sinyal bahwa profitabilitas operasional mengalami pengetatan.
Dengan struktur laporan keuangan seperti ini, maka ekspansi armada DAAZ pada dasarnya didukung oleh kemampuan perusahaan untuk mengakses pendanaan, bukan oleh luangnya arus kas internal.
Penerbitan obligasi menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, terutama karena kebutuhan logistik nikel, batubara, dan solar masih tinggi. Ekspansi pasar ke smelter-smelter baru di Sulawesi hingga penambahan kapasitas storage solar menjadi peluang untuk meningkatkan utilisasi armada dan pendapatan berbasis kontrak jangka panjang.
Sentimen Positif Kinerja DAAZ di 2026
Prospek kinerja DAAZ pada 2026 sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan mengonversi seluruh penambahan aset tersebut menjadi volume bisnis yang nyata. Kinerja 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan ada, tetapi tekanan pada kas dan marjin juga besar.
Jika armada baru mulai beroperasi penuh pada semester II 2026 dan pasar smelter tetap ekspansif, utilisasi yang lebih tinggi dapat memperbaiki pendapatan dan EBITDA. Namun efektivitas efisiensi operasional menjadi faktor kunci, mengingat cash from operations masih negatif besar.
Secara garis besar, ekspansi DAAZ ditopang oleh pendapatan yang tumbuh dan akses pendanaan yang kuat, tetapi dibayangi oleh tekanan kas dan penurunan profitabilitas. Tahun 2026 menjadi tahun yang menentukan apakah investasi USD90 juta yang digelontorkan untuk 2025–2026 dapat mengembalikan margin dan membawa DAAZ menuju fase pertumbuhan yang lebih stabil.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.