KABARBURSA.COM – Rupiah kembali berada dalam tekanan dan mencatatkan pelemahan beruntun hingga hari keenam. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.445 per dolar AS, menembus batas psikologis pasar di area 17.400.
Sejak eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran, akhir Februari lalu, rupiah telah terdepresiasi sekitar 4 persen. Rupiah bahkan ditempatkan dalam kelompok mata uang Asia yang mengalami tekanan signifikan.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik terbaru yang melibatkan serangan di Selat Hormuz mendorong lonjakan harga minyak global, dengan Brent bertahan di atas USD113 per barel setelah sempat melonjak lebih dari 6 persen.
Kenaikan harga energi ini memberikan dampak langsung bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Tekanan inflasi yang meningkat serta potensi pelebaran defisit eksternal menjadi faktor yang membebani pergerakan mata uang domestik.
Bank Indonesia merespons kondisi tersebut dengan menyatakan akan mengambil langkah yang konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas rupiah. Pernyataan ini muncul di tengah tekanan pasar yang terus berlanjut dalam beberapa sesi terakhir.
Jika ditarik ke kawasan, pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga bergerak di zona negatif, mencerminkan respons pasar terhadap risiko global yang meningkat.
Peso Filipina menjadi salah satu yang paling tertekan. Mata uang ini melemah hingga 0,3 persen ke level 61,726 per dolar AS dan telah turun sekitar 7 persen sejak konflik dimulai, mendekati level terendah historisnya.
Di Thailand, baht juga mengalami tekanan dengan pelemahan ke level 32,84 per dolar AS. Dalam periode yang sama, mata uang ini telah turun sekitar 5,7 persen, seiring dengan meningkatnya risiko eksternal.
Rupee India turut mengalami tekanan dengan penurunan sekitar 0,31 persen secara harian dan penurunan 5,78 persen sejak awal tahun. Sementara itu, ringgit Malaysia melemah 0,3 persen secara harian, namun masih mencatat penguatan sekitar 1,9 persen sejak konflik berlangsung.
Pasar Bursa Bervariasi
Di sisi lain, pergerakan pasar saham Asia cenderung bervariasi. Indeks Taiex Taiwan justru menguat 0,2 persen dan mencetak rekor tertinggi baru, ditopang oleh reli saham sektor semikonduktor yang telah naik lebih dari 40 persen sepanjang tahun.
Sementara itu, IHSG Jakarta naik 0,8 persen pada hari ini, meski secara tahun berjalan masih terkoreksi sekitar 18,6 persen. Data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama menjadi salah satu faktor penopang sentimen domestik.
Namun, penguatan indeks saham tidak sepenuhnya mampu menahan tekanan pada nilai tukar. Pergerakan rupiah tetap lebih sensitif terhadap dinamika global, terutama terkait harga energi dan arus modal asing.
Dalam konteks ini, pelemahan rupiah mencerminkan kombinasi antara tekanan eksternal dan dinamika domestik. Lonjakan harga minyak, ketegangan geopolitik, serta pergeseran preferensi investor terhadap aset berisiko menjadi faktor utama yang membentuk arah pergerakan mata uang di kawasan.(*)