KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, tetap bertahan di zona hijau dengan penguatan yang semakin solid hingga akhir sesi. IHSG naik 85 poin atau 1,22 persen ke level 7.057, mempertegas upaya bertahan di atas level psikologis 7.000.
Pergerakan indeks ditopang oleh aktivitas transaksi yang cukup aktif. Volume perdagangan mencapai 432,7 juta lot dengan nilai transaksi Rp16,72 triliun, mencerminkan aliran dana yang masih bergerak di tengah dinamika global.
Dari sisi kontributor, penguatan IHSG tidak terjadi secara merata, melainkan didorong oleh saham-saham tertentu yang mencatat lonjakan signifikan. BRPT menjadi motor utama dengan kenaikan 24,66 persen, diikuti CUAN, UNVR, hingga AMMN yang turut menguat dalam daftar top gainers LQ45.
Lonjakan BRPT menjadi faktor paling dominan dalam mengangkat indeks. Kenaikan tajam ini beriringan dengan penguatan sektor basic industry yang mencatat lonjakan tertinggi sebesar 2,86 persen.
Selain BRPT, saham dalam rantai sektor yang sama juga ikut menopang indeks. TPIA menguat 19,70 persen, SMGR naik 2,97 persen, dan INTP bergerak tipis di zona positif, membentuk dorongan sektoral yang cukup kuat.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa penguatan IHSG pada hari ini lebih bersifat sektoral dibandingkan menyeluruh. Ketika sektor basic industry menguat signifikan, sektor lain justru bergerak berlawanan arah.
Sektor kesehatan menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,52 persen. Saham-saham seperti PRDA, SILO, hingga HEAL mengalami pelemahan, menahan potensi penguatan indeks yang lebih luas.
Indeks Asia Melemah
Di sisi eksternal, pergerakan bursa Asia hingga sesi sore justru menunjukkan arah yang berbeda dengan IHSG. Mayoritas indeks regional bergerak melemah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang tercatat turun 0,6 persen dalam perdagangan yang relatif tipis. Pasar Jepang dan Korea Selatan tidak beroperasi karena libur, membuat likuiditas kawasan cenderung terbatas.
Tekanan datang dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Aksi saling serang yang kembali terjadi membuat jalur perdagangan energi global berada dalam kondisi tidak pasti.
Harga minyak yang sebelumnya melonjak lebih dari 6 persen masih bertahan di atas USD100 per barel, meski sempat terkoreksi tipis. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global.
Sejumlah indeks utama di Asia mencerminkan tekanan tersebut. Hang Seng Hong Kong turun 0,76 persen, indeks Australia S&P/ASX200 melemah 0,19 persen, sementara indeks China bergerak terbatas dengan Shanghai Composite naik tipis 0,11 persen.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, IHSG justru mampu mempertahankan penguatan hingga penutupan. Pergerakan ini menunjukkan adanya dorongan domestik yang cukup kuat, terutama dari saham-saham tertentu dengan kapitalisasi besar.
Namun, struktur penguatan yang masih terfokus pada beberapa saham menunjukkan bahwa pergerakan indeks belum sepenuhnya didukung oleh partisipasi yang merata di seluruh sektor.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.