KABARBURSA.COM – Tekanan harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI masih belum mereda. Berdasarkan data pergerakan saham tiga tahun yang dihimpun Kabarbursa per 30 April 2026, saham BBRI tercatat berada di level 3.030, turun 2.080 poin atau 40,78 persen dibandingkan posisi puncaknya di kisaran 6.400 pada periode yang sama.
Penurunan dalam rentang panjang ini memunculkan pertanyaan investor, terutama di tengah posisi BRI sebagai salah satu saham perbankan berkapitalisasi besar dan langganan portofolio investor ritel maupun institusi. Koreksi yang terus berlangsung membuat pasar menanti sinyal yang lebih kuat dari manajemen mengenai bagaimana perseroan melihat tekanan harga saham tersebut.
Menanggapi kondisi ini, Direktur Utama BRI Hery Gunadi, mengatakan investor di pasar modal ada beberapa yang objektif ada yang jangka pendek maupun jangka panjang.
“Jadi kalau teman-teman ingin melakukan investasi jangka panjang itu bisa 5, 10, 15, 20 tahun. Belilah saham-saham blue chip yang fundamentalnya bagus seperti BBRI,” kata Hery dalam sesi tanya jawab pemaparan kinerja Triwulan I tahun 2026 secara daring pada Kamis, 30 April 2026.
Ia meminta investor tidak semata-mata menilai BBRI dari fluktuasi harga jangka pendek, melainkan dari kekuatan fundamental perusahaan dan orientasi investasi jangka panjang.
Menurut dia, investor harus menyesuaikan ekspektasi dengan tujuan investasinya. Bagi pemegang saham jangka panjang, volatilitas harian dinilai bukan faktor utama yang perlu dikhawatirkan.
“Kita nggak usah lihat harga saham naik turun, naik turun, itu bikin namanya tekanan darah naik juga gitu kan, stresnya naik. Karena investasi itu mesti sesuai dengan objektifnya kita,” ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan saat saham BBRI memang sedang berada dalam fase tekanan berkepanjangan. Dari grafik perdagangan tiga tahunan, setelah sempat menyentuh area 6.400, saham BBRI bergerak turun secara bertahap dan belum mampu kembali ke level psikologis 4.000 secara konsisten. Bahkan pada akhir April 2026, harga saham kembali mendekati titik terendah tiga tahunan.
Meski harga saham melemah, manajemen BRI menegaskan kondisi fundamental perseroan masih berada dalam koridor yang sehat. Dalam paparan kinerja, perseroan menyampaikan kualitas aset tetap terjaga, rasio kredit bermasalah stabil, serta loan at risk menunjukkan tren perbaikan. Dari sisi bisnis, pertumbuhan kredit tahun ini juga masih dinilai sesuai dengan rencana bisnis bank dan belum ada kebutuhan revisi target.
BRI juga menilai basis pembiayaan yang bertumpu pada segmen UMKM menjadi salah satu penyangga utama ketahanan perseroan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Portofolio yang granular membuat risiko tidak bertumpu pada satu pinjaman besar, sementara pemantauan diperketat pada sektor-sektor yang sensitif terhadap dinamika ekspor, energi, dan nilai tukar.
Di sisi lain, jajaran direksi BRI menilai tekanan harga saham saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor internal, tetapi juga kombinasi sentimen global, persepsi investor terhadap pasar modal domestik, dan kecenderungan investor menghindari aset berisiko. Karena itu, pelemahan harga dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kualitas operasional perseroan.
Hery pun menegaskan investor tidak perlu terjebak pada gejolak jangka pendek selama memegang saham dengan basis bisnis kuat.
“Dilihat dividend ratio-nya, cukup bagus. Jadi paling tidak bisa memberikan antara 10-11 persen return per tahun, per tahun. Mau cari investasi di mana sebesar itu?” kata dia.
Ia menambahkan, saham-saham berfundamental kuat pada akhirnya akan kembali mencerminkan nilai intrinsiknya ketika kondisi pasar dan ekonomi membaik. Karena itu, menurut dia, kesabaran menjadi elemen penting bagi investor yang memilih strategi akumulasi di saham unggulan.
“Nanti kan market-nya bagus, makro ekonominya membaik, baik itu global maupun lokal, saham-saham itu pasti akan ikut naik, indeksnya akan ikut naik,” tutur Hery.
Dengan harga yang sudah terpangkas 40,78 persen dalam tiga tahun terakhir, BBRI kini menjadi contoh bagaimana saham blue chip pun tidak kebal dari tekanan sentimen. Namun bagi manajemen, koreksi itu justru menjadi ujian apakah investor memandang BRI sebagai instrumen trading jangka pendek atau sebagai aset investasi jangka panjang.(*)