Logo
>

Saham FLMC hingga COAL Boncos Sepekan, Tren Ambruk Masih Lanjut

Tekanan jual tinggi tanpa perlawanan beli hancurkan instrumen lapis ketiga, kapitalisasi pasar tiga emiten utama terkikis.

Ditulis oleh Syahrianto
Saham FLMC hingga COAL Boncos Sepekan, Tren Ambruk Masih Lanjut
Sepuluh emiten dengan penurunan harga paling anjlok di pasar reguler terjadi sepanjang pekan, Senin, 8 Juni 2026 sampai Jumat, 12 Juni 2026. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Sepuluh emiten dengan penurunan harga paling anjlok di pasar reguler terjadi sepanjang pekan, Senin, 8 Juni 2026 sampai Jumat, 12 Juni 2026.

Seluruh saham tersebut mencatatkan return mingguan negatif yang sangat merugikan pemegang aset. Barisan sepuluh saham top losers tersebut mengalami kemerosotan nilai berkisar 18 persen hingga 38 persen.

Investor institusi terpantau mulai membatasi transaksi pada sektor berisiko tinggi ini. Likuiditas perdagangan harian juga menunjukkan tren penurunan signifikan.

Selain tiga emiten utama terdapat beberapa saham lain yang mencetak rapor merah sangat tebal. Saham APLI menduduki peringkat keempat setelah membukukan penurunan harga sepekan mencapai 25,44 persen. Nilai saham emiten ini terpuruk menuju level Rp252 per lembar.

Posisi kelima ditempati oleh saham NZIA yang mencatatkan koreksi mingguan sebesar 23,04 persen. Harga saham perusahaan tersebut terhempas hingga menyentuh posisi harga Rp177 per lembar saham. 

Emiten teknologi WGSH mengekor di urutan keenam dengan menderita penurunan nilai saham sebesar 19,86 persen. Harga penutupan saham emiten tersebut mendarat pada level Rp113 per lembar. Sentimen negatif industri digital menjadi pemicu utama pelemahan saham.

Tiga emiten berikutnya yang masuk dalam daftar penurunan terdalam adalah WEHA, CBPE, dan INAI. Saham WEHA anjlok sebesar 19,83 persen menuju tingkat harga Rp97 per lembar saham. Kemudian saham CBPE menyusul dengan mencatatkan penurunan sepekan sebesar 19,75 persen.

Saham INAI bertengger di peringkat kesembilan setelah mengalami penurunan nilai mingguan sebesar 19,50 persen. Harga saham emiten manufaktur ini terdepresiasi ke level Rp128 per lembar. Daftar sepuluh besar ditutup oleh saham GPSO yang anjlok 18,84 persen.

Sorotan Kejatuhan Saham Terdalam FLMC, DPUM, dan COAL

Saham PT Falmaco Nonwoven Industri Tbk dengan kode perdagangan FLMC memimpin daftar penurunan terdalam. Emiten industri tekstil nonwoven ini mencatatkan rapor paling merah sepanjang periode perdagangan pekan ini. Nilai saham FLMC terus menyusut setiap hari perdagangan.

Data perdagangan mencatatkan saham FLMC konsisten melemah sejak awal pekan tanggal 8 Juni. Saham ini menutup pekan dengan jatuh sebesar 7,07 persen ke level Rp92 per lembar. Secara akumulatif return mingguan saham FLMC ambruk hingga 38,26 persen.

Kini nilai kapitalisasi pasar emiten FLMC menyusut drastis menjadi sisa Rp71,88 miliar saja. Tekanan jual yang masif terus membayangi pergerakan instrumen investasi ini tanpa ada perlawanan beli. Para pemegang saham retail tercatat melakukan aksi jual panik.

Posisi kedua emiten dengan kinerja terburuk ditempati oleh PT Dua Putra Utama Makmur Tbk. Saham sektor perikanan berkode emiten DPUM ini mengalami kemerosotan harga yang sangat menyakitkan investor. Koreksi tajam melanda instrumen ini secara bertubi-tubi pekan ini.

Saham DPUM mencatatkan akumulasi penurunan harga dalam satu pekan perdagangan sebesar 34,09 persen. Pada perdagangan hari terakhir saham ini bergerak stagnan dan menetap pada harga Rp116 per lembar. Nilai kapitalisasi pasar emiten makanan laut ini sisa Rp484,30 miliar.

Emiten tambang batu bara PT Black Diamond Resources Tbk menduduki peringkat ketiga pasar. Saham berkode emiten COAL ini tidak mampu keluar dari tekanan sentimen negatif komoditas global. Harga saham COAL melorot tajam sepanjang pekan perdagangan kali ini.

Saham komoditas COAL mencatatkan penurunan harga sepekan penuh mencapai angka 32,00 persen. Pada perdagangan hari jumat saham ini kembali melemah sebesar 8,11 persen secara harian. Posisi harga terakhir saham COAL terdampar pada level Rp34 per lembar.

Kapitalisasi pasar emiten tambang COAL kini terkikis menjadi Rp212,50 miliar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.