KABARBURSA.COM – Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat penurunan tajam dalam sepekan terakhir. Data perdagangan yang dihimpun Kabarbursa.com menunjukkan koreksi harga mencapai lebih dari 30 persen pada beberapa emiten dalam periode satu minggu.
Saham DSSA menjadi yang mengalami penurunan terdalam dalam sepekan. Harga sahamnya turun 37,85 persen dan berada di level Rp2.020 per saham.
Di posisi berikutnya, saham IFSH melemah 32,79 persen dalam sepekan. Penurunan ini terjadi meski secara year to date (ytd) saham tersebut masih mencatat kenaikan 159,49 persen.
Saham milik Prajogo Pangestu, BREN juga mencatat koreksi signifikan sebesar 30,26 persen dalam periode yang sama. Sepanjang tiga bulan terakhir, saham ini turun 50,32 persen dan dalam enam bulan melemah 49,65 persen.
Selanjutnya, saham RISE, miliki Hermanto Tanoko, turun 28,36 persen dalam sepekan. Secara tiga bulan, saham ini terkoreksi lebih dalam hingga 72,94 persen dan dalam enam bulan turun 80 persen.
Saham YPAS mencatat penurunan mingguan sebesar 26,80 persen. Namun, dalam periode satu bulan dan tiga bulan saham ini masih mencatat kenaikan masing-masing 101,59 persen dan 120,87 persen.
Adapun WMPP juga mengalami koreksi sebesar 21,15 persen dalam sepekan. Meski demikian, saham ini masih mencatat kenaikan signifikan dalam tiga bulan dan enam bulan masing-masing sebesar 241,67 persen.
Saham SINI turun 19,59 persen dalam sepekan. Pergerakan ini berbanding terbalik dengan kenaikan dalam enam bulan yang mencapai 195,27 persen.
COIN pun mencatat penurunan 19,57 persen dalam sepekan. Dalam tiga bulan, saham ini turun 58,46 persen dan dalam enam bulan melemah 61,17 persen.
Saham MLPT terkoreksi 18,97 persen dalam sepekan. Secara tiga bulan dan enam bulan, saham ini juga mencatat penurunan masing-masing sebesar 61,49 persen dan 72,27 persen.
Sementara itu, saham PSKT turun 18,88 persen dalam periode yang sama. Namun, dalam enam bulan saham ini masih mencatat kenaikan sebesar 93,33 persen.
Data ini menunjukkan tekanan jual yang cukup besar dalam jangka pendek pada sejumlah saham. Penurunan tersebut tercermin dari pergerakan harga mingguan yang lebih dalam dibandingkan periode lainnya.(*)