KABARBURSA.COM - Server portal berita Tempo kembali mendapatkan serangan cyber penolakan layanan terdistribusi (DDoS) sejak Jumat, 5 Juni 2026.
Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) dalam siaran persnya menyampaikan, serangan tersebut membanjiri server Tempo dan menghambat publik untuk mengakses situs berita.
"Hingga 8 Juni lalu, tim teknologi perusahaan mencatat total 24,9 juta permintaan yang diarahkan ke servernya," tulis KKJ dalam keterangannya.
Pihak Tempo menduga serangan DDoS ini dilakukan menggunakan bot secara sporadis dengan intensitas tinggi, khususnya pada sore hari dan dini hari.
KKJ menyampaikan salah satu gelombang serangan terbesar antara pukul 8.30 malam dan tengah malam, sekitar 12,97 juta serangan hanya dalam waktu dua jam.
"Analisa TEMPO menyebutkan, serangan tak hanya berasal dari Indonesia, tapi juga berasal dari Kolombia, Amerika Serikat, Filipina, Bangladesh dan Meksiko," sebut KKJ.
KKJ pun mengecam keras atas serangan digital brutal kepada Tempo. KKJ menilai serangan ini secara langsung menjadi upaya pembungkaman kebebasan pers dan menghalangi publik untuk mengakses informasi secara bebas.
KKJ beranggapan, serangan DDoS ini bukan sebuah kebetulan, ini bekerja secara sistematis dan terencana.
"Kejadian ini menambah daftar panjang kasus-kasus pembungkaman kebebasan pers melalui serangan digital dan merampas hak publik untuk tahu dan menghalangi arus informasi yang seharusnya bebas dan terbuka," tulis KKJ.
Dalam catatan KKJ, serangan digital ini bukan yang pertama dialami Tempo. Sebelumnya pada April 2025, situs berita tempo.co mengalami serangan DDoS. Pada Agustus 2020, situs tempo.co diretas atau mendapatkan cyber attack. Tampilan situs ini hilang, berganti dengan layar hitam bertuliskan kata Hoax berwarna merah.
Pada September dan Oktober 2022, TEMPO bersama tiga media mengalami serangan DDos. Di antaranya situs Narasi TV, Konde.co, dan Batamnews.co.id.
Pergerakan Saham Tempo
Sejak serangan cyber berlangsung, saham Tempo Inti Media (TMPO) yang merupakan penerbit dari portal berita Tempo, terpantau diakumulasi investor selama periode 5-12 Juni 2026.
Data broker summary Stockbit periode 5–12 Juni 2026 memperlihatkan broker XL menjadi akumulasi terbesar dengan pembelian mencapai Rp1,1 miliar. Broker ini mengoleksi sekitar 85 ribu lot saham di harga rata-rata Rp140.
Posisi kedua ditempati broker CC dengan akumulasi sebesar Rp470,9 juta atau sekitar 30,9 ribu lot pada harga rata-rata Rp142. Peringkat berikutnya terdapat broker AT yang menyerok saham TMPO senilai Rp82,3 juta, disusul broker ZP sebesar Rp20,7 juta dan broker SQ senilai Rp13 juta.
Broker OD, JB, RO, YJ, dan CP juga tercatat melakukan pembelian meskipun dengan nilai yang lebih kecil.
Berdasarkan data perdagangan terakhir pekan ini, 12 Juni 2026, saham TMPO ditutup menguat 3,17 persen ke level Rp130 per saham. Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif dalam jangka pendek setelah saham emiten media ini melonjak 31,31 persen dalam sepekan terakhir.
Kinerja saham TMPO juga masih berada di zona hijau dalam periode satu bulan dan tiga bulan. Dalam satu bulan terakhir, saham TMPO mencatat kenaikan 5,69 persen, sementara dalam tiga bulan naik 8,33 persen.
Meski demikian, performa saham secara jangka menengah masih menunjukkan tekanan. Dalam enam bulan terakhir, saham TMPO terkoreksi 21,69 persen. Sementara secara year to date (ytd), saham ini masih mencatat penurunan 22,62 persen.
Secara tahunan, saham TMPO juga masih berada di zona merah dengan pelemahan 13,33 persen. Namun jika ditarik ke periode yang lebih panjang, saham ini masih memberikan imbal hasil positif. Dalam tiga tahun terakhir, TMPO menguat 36,84 persen, sedangkan dalam horizon 10 tahun naik 28,71 persen. (*)