KABARBURSA.COM – PT Galva Technologies Tbk (GLVA) tetap membagikan dividen tunai sebesar Rp15 miliar kepada pemegang saham meski harga saham perseroan masih berada dalam tren pelemahan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar 12 Juni 2026, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp10 per saham atau setara Rp15 miliar dari laba bersih tahun buku 2025. Perseroan juga menetapkan sekitar Rp18,97 miliar sebagai laba ditahan untuk memperkuat modal usaha.
Melansir dari keterbukaan informasi publik, keputusan tersebut diambil dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp33,97 miliar sepanjang 2025. Dengan demikian, sekitar 44,16 persen laba dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen.
Selain menyetujui penggunaan laba bersih, pemegang saham juga menyetujui seluruh agenda rapat dengan tingkat persetujuan 100 persen. RUPS dihadiri pemegang saham yang mewakili 79,82 persen saham dengan hak suara sah.
Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan perseroan, cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 23 Juni 2026, sedangkan recording date ditetapkan pada 25 Juni 2026. Adapun pembayaran dividen akan dilakukan pada 16 Juli 2026.
Per akhir 2025, GLVA membukukan saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp268,97 miliar dengan total ekuitas mencapai Rp409,92 miliar.

Dengan harga saham GLVA yang ditutup di level Rp320 per saham pada 17 Juni 2026, investor yang memiliki 100 lot saham membutuhkan modal sekitar Rp3,2 juta dan berpotensi memperoleh dividen kotor Rp100.000.
Performa Saham GLVA di Lantai Bursa
Pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, saham GLVA ditutup di level Rp320 per saham, turun 0,62 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Sepanjang perdagangan, saham bergerak di kisaran Rp318 hingga Rp330 per saham.
Dalam periode yang lebih panjang, tekanan terhadap saham perseroan masih cukup terlihat. Secara year to date (YTD), saham GLVA telah melemah 25,23 persen. Dalam enam bulan terakhir koreksinya mencapai 22,71 persen, sedangkan dalam tiga tahun terakhir harga saham telah turun 44,83 persen.
Dengan harga saham Rp320 per saham dan dividen Rp10 per saham yang akan dibagikan, dividend yield GLVA berada di kisaran 3,12 persen.
Dari sisi valuasi, saham GLVA diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) trailing sekitar 16,7 kali dan price to book value (PBV) sekitar 1,15 kali.
Laba dan Pendapatan Masih Menurun
Di tengah pembagian dividen tersebut, kinerja operasional perseroan masih menunjukkan tekanan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Data keuangan menunjukkan pendapatan GLVA turun dari Rp2,31 triliun pada 2024 menjadi Rp1,94 triliun pada 2025. Secara trailing twelve months (TTM), pendapatan berada di kisaran Rp1,93 triliun.
Penurunan juga terlihat pada laba bersih. Setelah membukukan laba sekitar Rp76 miliar pada 2024, laba bersih perseroan turun menjadi Rp34 miliar pada 2025. Secara TTM, laba bersih tercatat sekitar Rp29 miliar.
Tekanan kinerja masih berlanjut pada awal 2026. Pada kuartal I 2026, pendapatan tercatat Rp372 miliar, turun dari Rp384 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun menjadi sekitar Rp6 miliar pada kuartal I 2026, dibandingkan Rp12 miliar pada kuartal I 2025.
Meski demikian, posisi keuangan perseroan masih relatif terjaga. Hingga akhir Maret 2026, GLVA membukukan total ekuitas sekitar Rp468 miliar dengan total liabilitas Rp547 miliar.
Kondisi tersebut memungkinkan perseroan tetap mempertahankan kebijakan pembagian dividen sekaligus menyisakan sebagian laba sebagai cadangan untuk mendukung kegiatan usaha ke depan.(*)