KABARBURSA.COM - Emiten perbankan PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) menyoroti besarnya tantangan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Tantangan-tantangan itu meliputi gejolak geopolitik, volatilitas energi, tekanan nilai tukar, hingga ketidakpastian arah kebijakan. Isu tersebut mengemuka dalam SMBC Indonesia Economic Forum 2026 yang digelar perseroan di Jakarta dengan tema “Resilience in a Shifting Global Landscape”.
Direktur Utama PT Bank SMBC Indonesia Tbk, Henoch Munandar, mengatakan stabilitas ekonomi menjadi faktor utama agar pertumbuhan nasional tetap terjaga di tengah kondisi global yang tidak menentu.
“Kami melihat pentingnya menjaga stabilitas sebagai fondasi di era penuh ketidakpastian,” ujar Henoch dalam keterangan tertulis yang pada Jumat, 22 Mei 2026
Menurut dia, sektor keuangan memiliki peran strategis untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional, terutama melalui intermediasi pembiayaan dan dukungan investasi jangka panjang.
Head of Economics Portfolio Alignment and Sustainability Danantara Indonesia, Masyita Crystallin, mengatakan Indonesia harus mampu memanfaatkan peluang investasi di tengah perubahan arsitektur perdagangan global dan fragmentasi geopolitik.
Ia menjelaskan Danantara saat ini fokus pada sejumlah sektor strategis seperti mineral, digital energy, digital infrastructure, health care, financial service, infrastructure utility, industrial asset, hingga pangan dan industri.
“Danantara tidak hanya berfokus pada dampak ekonomi nasional dan menghasilkan imbal hasil berkelanjutan, tetapi juga bergerak aktif berdasarkan peluang investasi,” kata Masyita dalam acara yang sama.
Namun, di tengah optimisme tersebut, sejumlah pembicara mengingatkan tingginya risiko ketidakpastian yang masih membayangi ekonomi Indonesia.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menilai dunia usaha membutuhkan arah kebijakan yang jelas agar kepercayaan investor tidak terganggu.
“Dunia usaha tidak bisa diberikan ketidakpastian dan volatilitas,” ujar Burhanuddin.
Sementara itu, ekonom senior Raden Pardede menilai Indonesia harus segera mempercepat transformasi ekonomi menuju sektor bernilai tambah tinggi dan berbasis teknologi.
“Negara yang berhasil adalah negara yang mampu menguasai teknologi dan menciptakan industrialisasi bernilai tambah tinggi,” kata Raden.
Dari sisi geopolitik, Distinguished Fellow Asia Research Institute National University of Singapore, Kishore Mahbubani, menilai negara-negara ASEAN perlu bergerak bersama menghadapi tekanan global yang semakin besar.
“Jika seluruh negara ASEAN bersatu dan menyampaikan pesan yang sama maka dampaknya akan jauh lebih kuat,” ujar Kishore.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menyoroti tingginya volatilitas pasar saham dan obligasi Indonesia pada 2026 akibat risiko global maupun domestik.
President Director PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Lilis Setiadi, serta Managing Partner PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk, Arief Wana, menilai investor perlu lebih selektif dan defensif dalam menyusun strategi investasi.
Meski dibayangi berbagai sentimen global, saham BTPN justru menguat pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026 kemarin. Saham emiten bank milik SMBC tersebut naik 70 poin atau 3,04 persen ke level 2.370.
Penguatan saham terjadi menjelang pembayaran dividen tunai Rp9,5 per saham yang dijadwalkan pada 22 Mei 2026. Perseroan sebelumnya telah menetapkan cum date dividen pada 4 Mei 2026 dan ex date pada 5 Mei 2026.(*)