KABARBURSA.COM - Pasar saham Wall Street berakhir di zona hijau pada Kamis waktu setempat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali menorehkan rekor penutupan tertinggi—untuk hari kedua secara beruntun—seiring menguatnya keyakinan pelaku pasar bahwa eskalasi paling genting di kawasan Timur Tengah mulai mereda.
Sentimen positif tersebut mengemuka setelah Israel menyepakati jeda gencatan senjata sementara dengan Lebanon. Di saat yang sama, Presiden Donald Trump melontarkan sinyal adanya peluang pertemuan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran yang direncanakan berlangsung akhir pekan ini.
Dow Jones Industrial Average ditutup naik 115 poin atau 0,24 persen ke level 48.578,72. Sementara itu, S&P 500 menguat 18,33 poin atau 0,26 persen menjadi 7.041,28. Nasdaq Composite pun menanjak 86,69 poin atau 0,36 persen ke posisi 24.102,70. Kedua indeks terakhir bahkan sempat menyentuh rekor intraday baru, mencerminkan euforia sesaat di lantai bursa. Seperti dikutip reuters di Jakarta, Jumat 17 April 2026.
Khusus Nasdaq, reli kali ini menandai penguatan selama 12 sesi berturut-turut—sebuah rentang yang menjadi yang terpanjang sejak Juli 2009, tak lama setelah dunia keluar dari bayang-bayang krisis finansial global.
Mayoritas sektor dalam S&P 500 bergerak naik. Sektor energi tampil sebagai lokomotif utama dengan lonjakan 1,6 persen, terdorong oleh reli harga minyak mentah. Sebaliknya, sektor kesehatan justru tertinggal, terkoreksi 0,8 persen dan menjadi penekan kinerja indeks.
Namun demikian, arah pergerakan pasar tidak sepenuhnya stabil. Volatilitas masih terasa, terutama setelah Trump mengumumkan gencatan senjata berdurasi 10 hari antara Israel dan Lebanon. Ia juga menyebut Iran bersedia menahan pengembangan senjata nuklir selama lebih dari dua dekade. Sebelumnya, laporan Bloomberg mengindikasikan bahwa kesepakatan komprehensif antara Washington dan Teheran kemungkinan memerlukan waktu hingga enam bulan untuk terwujud.
Chief Investment Officer Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli, memandang pasar kini berada di persimpangan antara optimisme dan kehati-hatian. Konflik Iran, menurutnya, tetap menjadi variabel dominan yang membentuk dinamika pasar selama enam pekan terakhir.
Ekspektasi terhadap kemajuan diplomasi memang telah memperbaiki sentimen dalam beberapa hari terakhir. Akan tetapi, sejumlah analis menilai bahwa sinyal perdamaian yang lebih konkret masih dibutuhkan agar reli dapat berlanjut secara konsisten. Di sisi lain, indikator di pasar opsi mengisyaratkan bahwa momentum kenaikan saham belum sepenuhnya kehabisan tenaga.
Direktur Per Stirling Capital Management, Robert Phipps, menyoroti rilis data ekonomi yang terbilang campuran. Klaim tunjangan pengangguran di Amerika Serikat tercatat turun lebih tajam dari proyeksi pada pekan sebelumnya, mencerminkan ketahanan pasar tenaga kerja. Meski begitu, dunia usaha tetap bersikap konservatif dalam ekspansi tenaga kerja, seiring ketidakpastian dampak konflik terhadap aktivitas ekonomi.
Menurut Phipps, perang masih menjadi katalis utama yang menggerakkan pasar. Setelah sempat tertekan, pasar mulai menunjukkan tanda pemulihan. Namun ke depan, ia berharap pergerakan harga aset kembali berpijak pada fundamental ekonomi yang lebih solid.
Di luar isu geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada musim laporan keuangan kuartal pertama yang mulai bergulir. Kinerja emiten menjadi penentu arah berikutnya.
Perusahaan minuman PepsiCo mencatatkan kenaikan saham sebesar 2,3 persen setelah melaporkan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi. Sebaliknya, produsen alat kesehatan Abbott Laboratories merosot 6 persen ke titik terendah sejak November 2023, menyusul revisi turun proyeksi laba tahunan.
Penurunan paling tajam di S&P 500 dialami oleh perusahaan pialang Charles Schwab yang terperosok 7,6 persen usai merilis laporan keuangan. Sementara itu, saham Netflix jatuh 8 persen dalam perdagangan setelah penutupan pasar, menyusul publikasi kinerja kuartalan. Perusahaan streaming tersebut tetap mempertahankan proyeksi pendapatan hingga 2026, sekaligus mengumumkan pengunduran diri salah satu pendirinya, Reed Hastings, yang dijadwalkan efektif pada Juni mendatang.
Pergerakan mencolok juga terjadi pada saham Myseum. Emiten ini melesat 129 persen ke level USD3,30 setelah melakukan rebranding menjadi Myseum.AI, mengikuti arus besar tren kecerdasan buatan. Lonjakan tersebut melanjutkan euforia sehari sebelumnya pada saham produsen sepatu Allbirds, yang turut mengumumkan pergeseran strategi ke sektor AI.(*)