KABARBURSA.COM - Nilai tukar dolar Amerika Serikat bergerak cenderung stagnan pada perdagangan Kamis setelah sebelumnya menyentuh posisi tertinggi dalam enam pekan terakhir. Pergerakan tersebut terjadi di tengah tarik-ulur sentimen pasar terkait peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah, terutama perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama termasuk euro dan yen, tercatat nyaris tidak berubah di level 99,13. Data tersebut berdasarkan laporan Reuters dari New York pada Kamis 21 Mei waktu setempat atau Jumat 22 Mei 2026 pagi WIB.
Sebelumnya, dolar sempat menguat setelah Reuters melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan arahan yang melarang ekspor uranium yang telah diperkaya hingga mendekati tingkat senjata.
Namun reli tersebut kemudian terpangkas setelah muncul laporan yang belum terverifikasi mengenai adanya kesepakatan draf akhir antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang. Minimnya kepastian dari kedua pihak membuat pasar kembali bergerak volatil.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington pada akhirnya akan mengambil kembali cadangan uranium Iran yang diperkaya tingkat tinggi. Pemerintah AS menilai material tersebut diarahkan untuk pengembangan senjata nuklir, sementara Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai.
Ketidakpastian berkepanjangan terkait gangguan pasokan energi akibat perang dinilai berpotensi meningkatkan inflasi inti di Amerika Serikat sekaligus mengerek ekspektasi inflasi. Situasi itu dapat mendorong Federal Reserve mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan.
Kondisi tersebut menjadi faktor penopang dolar AS yang selama ini bergerak selaras dengan imbal hasil US Treasury dan turut diuntungkan oleh statusnya sebagai aset safe haven di tengah gejolak global.
Selain faktor geopolitik, keyakinan bahwa ekonomi Amerika Serikat masih relatif lebih kuat dibanding negara lain juga menjadi katalis penguatan dolar. Di sisi lain, sejumlah ekonomi global mulai memperlihatkan tanda perlambatan akibat tekanan harga energi yang terus meninggi.
Direktur CIBC Capital Markets, Noah Buffam, mengatakan dampak perlambatan ekonomi global umumnya mulai terasa sekitar tiga bulan setelah terjadi guncangan harga minyak. Karena itu, mata uang yang bergantung pada pertumbuhan ekonomi global dipandang semakin rentan terhadap tekanan.
Data indeks manajer pembelian (PMI) terbaru dari Eropa, Inggris, dan Jepang turut memperkuat kekhawatiran pasar karena sebagian besar hasilnya berada di bawah ekspektasi. Kondisi tersebut semakin meningkatkan daya tarik dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Di kawasan euro, aktivitas ekonomi kembali mengalami kontraksi terdalam dalam lebih dari dua setengah tahun pada Mei. Lonjakan biaya hidup akibat perang disebut menekan permintaan sektor jasa dan mendorong perusahaan mempercepat pemutusan hubungan kerja.
Meski demikian, ekonom Capital Economics Andrew Kenningham menilai Bank Sentral Eropa masih berada di jalur untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni. Menurutnya, data terbaru belum cukup kuat untuk mengubah arah kebijakan moneter maupun mereduksi risiko resesi di kawasan tersebut.
Di Inggris, aktivitas bisnis tercatat mengalami penurunan paling luas dalam lebih dari satu tahun terakhir. Sementara di Jepang, sektor manufaktur kembali melambat pada Mei dan pertumbuhan sektor jasa nyaris berhenti untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun.
Euro melemah tipis 0,03 persen ke posisi USD1,1624, sedangkan poundsterling justru menguat 0,07 persen menjadi USD1,3441.
Di Amerika Serikat sendiri, data terbaru menunjukkan jumlah klaim tunjangan pengangguran menurun. Angka tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja masih cukup solid dan memberi ruang bagi Federal Reserve untuk tetap fokus terhadap tekanan inflasi.
Sementara itu, yen Jepang melemah tipis 0,01 persen ke level 158,92 per dolar AS, mendekati ambang psikologis 160 yang sebelumnya memicu intervensi Tokyo di pasar valuta asing untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun.
Dari sisi kebijakan moneter Jepang, anggota dewan Bank of Japan Junko Koeda mengatakan bank sentral perlu menaikkan suku bunga secara bertahap dan terukur karena tekanan inflasi akibat perang Timur Tengah berpotensi mendorong inflasi inti melampaui target 2 persen.
Namun demikian, survei Bank of Japan terhadap investor menunjukkan adanya dorongan untuk menunda rencana pengurangan pembelian obligasi di tengah meningkatnya volatilitas pasar surat utang serta menjelang evaluasi strategi pelonggaran kuantitatif bulan depan.(*)