Logo
>

Tips yang Harus Dilakukan Investor Saham di Tengah Gejolak Timur Tengah

Dalam kondisi seperti ini, Hendra menilai investor cenderung melepas aset berisiko seperti saham dan beralih ke instrumen safe haven.

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Tips yang Harus Dilakukan Investor Saham di Tengah Gejolak Timur Tengah
Logo IDX di Main Hall Bursa Efek Indonesia (Foto: Kabarbursa.com/R. Fadli)

KABARBURSA.COM - Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) - Israel dan Iran cukup mempengaruhi pasar saham di Indonesia.

Pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi sebesar 2,65 persen atau turun 218 poin ke level 8.016.

Analis pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan aksi militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran memicu lonjakan harga minyak dan emas, mendorong investor global masuk ke mode risk off. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung melepas aset berisiko seperti saham dan beralih ke instrumen safe haven.

"Tekanan semakin terasa karena hampir seluruh sektor mengalami aksi jual, kecuali sektor energi yang relatif tertahan berkat lonjakan harga minyak mentah," ujar dia dalam keterangannya yang diterima Kabarbursa.com dikutip, Selasa, 3 Maret 2026.

Secara teknikal, Hendra menjelaskan level 8.000 menjadi support psikologis yang sangat penting IHSG. Selama indeks mampu bertahan di atas level tersebut, ia yakin peluang rebound teknikal menuju 8.100 masih terbuka.

Namun apabila terjadi breakdown di bawah 8.000, Hendra memprediksi IHSG  berpotensi melanjutkan koreksi ke area 7.941 sebagai support berikutnya.

"Dengan net sell asing sebesar Rp490 miliar, tekanan jangka pendek masih perlu diwaspadai, meski penurunan tajam seperti ini juga membuka peluang technical rebound," ungkapnya.

Dalam situasi seperti saat ini, Hendra menilai strategi investasi sebaiknya lebih selektif dan defensif. Investor jangka pendek dapat memanfaatkan volatilitas dengan pendekatan trading buy pada saham-saham yang mendapatkan sentimen langsung dari kenaikan harga komoditas, terutama energi dan emas.

Sementara itu, lanjut dia, investor jangka menengah hingga panjang diimbau tidak panik, melainkan menunggu konfirmasi stabilisasi di area support kuat sebelum melakukan akumulasi bertahap.

"Manajemen risiko menjadi kunci, termasuk disiplin menentukan batas cut loss jika skenario pelemahan berlanjut," terangnya.

Selain konflik Iran dan Israel, Hendra mengimbau investor untuk mencermati beberapa sentimen lain. Pertama, rilis data domestik seperti inflasi dan neraca perdagangan yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Bank Indonesia, terutama di tengah pelemahan rupiah ke kisaran 16.855 per dolar AS.

Kedua, perkembangan kebijakan The Fed yang masih menjadi faktor utama arus modal global. Ketiga, agenda ekonomi China dalam pertemuan “Two Sessions” yang akan menentukan arah stimulus dan pertumbuhan kawasan Asia.

"Dengan kombinasi faktor geopolitik dan makro tersebut, volatilitas diperkirakan masih tinggi dalam jangka pendek. Namun selama fondasi ekonomi domestik tetap terjaga dan harga komoditas bertahan kuat, peluang pemulihan IHSG tetap terbuka setelah tekanan mereda," jelasnya.

Sektor yang Patut Dicermati

Hendra kemudian membeberkan jika energi dan pertambangan emas adalah sektor yang layak dicermati. Lonjakan harga minyak WTI ke kisaran USD72 per barel dan Brent USD78 memberikan sentimen positif bagi beberapa sahan.

Seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT Elnusa Tbk (ELSA).  Hendra menyatakan tiga saham ini secara teknikal menarik untuk trading buy dengan target masing-masing 2.350, 4.400, dan 1.100.

Di sisi lain, kenaikan harga emas di atas 5.400 turut menopang prospek emiten logam mulia seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target 4.720.

"Kenaikan komoditas ini berpotensi meningkatkan margin dan ekspektasi laba perusahaan, sehingga menjadi penopang relatif di tengah pelemahan sektor lain seperti basic industry dan manufaktur," pungkasnya. (*)

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.