KABARBURSA.COM — Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat dan harga minyak dunia menjadi ujian bagi perusahaan pelayaran. Di sektor ini, bahan bakar masih menjadi komponen penting operasional. Namun tekanan yang sama tidak selalu menghasilkan dampak yang seragam.
Researcher Komunitas Pintar Saham, Skydrugz27, dalam analisanya melihat tiga emiten pelayaran yakni PT Temas Tbk (TMAS), PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP), dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) masih berada dalam kondisi layak bertahan. Meski begitu, masing-masing memiliki cara berbeda dalam menghadapi tekanan biaya dan siklus industri.
“Perusahaan kapal harus memutar otak di tengah naiknya dollar dan (minyak) Brent karena mayoritas kapal yang ada di dunia ini masih pakai bahan bakar oil untuk bisa operasional,” tulis Skydrugz27 dalam analisanya, Senin, 23 Maret 2026.
Dari sisi pendapatan, TMAS menjadi pemain terbesar dengan omzet sekitar Rp 4,34 triliun selama 2025. SHIP berada di posisi kedua dengan pendapatan USD173,8 juta atau sekitar Rp 2,94 triliun. Sementara WINS mencatatkan pendapatan USD81,31 juta atau setara Rp 1,37 triliun.
Namun besarnya pendapatan tidak otomatis mencerminkan kekuatan fundamental. Skydrugz27 menekankan bahwa yang lebih penting adalah kemampuan perusahaan mengubah pendapatan menjadi laba dan arus kas.
Model bisnis ketiganya juga berbeda. TMAS bergerak di logistik peti kemas domestik yang bergantung pada arus barang dalam negeri. Sementara SHIP dan WINS lebih dekat ke industri migas offshore, sehingga kinerjanya sangat dipengaruhi aktivitas proyek energi. Dari sini terlihat bahwa kenaikan harga minyak atau Brent punya dampak yang berbeda bagi ketiganya.
TMAS Tertekan dari Sisi Bahan Bakar
TMAS menjadi emiten yang paling sensitif terhadap kenaikan harga minyak. Beban bahan bakar dan pelumas mencapai Rp 1,23 triliun atau sekitar 34,65 persen dari total harga pokok penjualan sebesar Rp 3,55 triliun pada emiten ini.
Artinya, setiap kenaikan harga minyak akan langsung menekan margin perusahaan. Kenaikan biaya ini sulit dihindari kecuali tarif angkut bisa dinaikkan dalam waktu cepat.
Meski demikian, kinerja operasional TMAA masih terlihat solid. Sepanjang 2025, laba bersih tercatat Rp553,1 miliar, dengan laba bruto Rp 797,5 miliar dan arus kas operasi Rp 829,1 miliar. Angka ini menunjukkan bisnis inti perusahaan tetap berjalan kuat.
Namun tekanan muncul dari sisi ekspansi. Belanja modal mencapai Rp 1,09 triliun sehingga arus kas bebas menjadi negatif sekitar Rp 270 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspansi masih membutuhkan tambahan pendanaan di luar kas operasional.
WINS Diuntungkan dari Siklus Migas
Berbeda dengan TMAS, WINS memiliki struktur biaya yang tidak terlalu bergantung pada bahan bakar. Beban utama perusahaan justru berasal dari penyusutan sebesar Rp 250,12 miliar, biaya awak kapal Rp 192,66 miliar, dan pemeliharaan Rp 121,68 miliar.
Dalam kondisi harga minyak tinggi, posisi ini justru bisa menjadi keuntungan. Aktivitas migas cenderung meningkat ketika harga energi naik, sehingga permintaan terhadap kapal offshore ikut terdorong. “Hubungannya lebih nyambung ke demand dan utilisasi kapal,” kata Skydrugz27.
Dari sisi keuangan, WINS terlihat paling seimbang. Laba bersih mencapai USD28,57 juta atau sekitar Rp 482,83 miliar. Arus kas operasi USD41,08 juta setara Rp 694,25 miliar. Belanja modal USD31,21 juta atau sekitar Rp 527,45 miliar.
Dengan struktur ini, arus kas bebas masih positif sekitar USD9,87 juta atau Rp 166,80 miliar. Selain itu, posisi kas USD43,67 juta atau Rp 738,02 miliar sedikit lebih tinggi dibanding utang USD42,47 juta atau Rp 717,74 miliar. Kondisi ini menempatkan perusahaan dalam posisi net cash.
Dalam bisnis pelayaran yang padat aset, posisi seperti ini memberi fleksibilitas lebih saat siklus industri melemah.
SHIP Tumbuh Agresif dengan Risiko Lebih Tinggi
SHIP berada di posisi tengah dari sisi ukuran, namun memiliki karakter bisnis yang lebih agresif. Pendapatan USD173,8 juta atau Rp 2,94 triliun banyak ditopang kontrak migas dari pelanggan besar seperti Pertamina International Shipping, PetroChina, dan BP Berau.
Struktur biaya perusahaan juga tidak terlalu tertekan oleh bahan bakar. Beban utama berasal dari penyusutan sebesar USD37 juta atau Rp 625,30 miliar serta biaya sewa USD26,9 juta atau Rp 454,61 miliar.
Dalam kondisi harga minyak tinggi, aktivitas migas yang meningkat justru berpotensi mendorong utilisasi kapal. Namun ekspansi agresif menjadi tantangan tersendiri. Arus kas operasi tercatat USD65,1 juta atau sekitar Rp 1,10 triliun, tetapi belanja modal mencapai USD104,3 juta atau Rp 1,76 triliun. Akibatnya, arus kas bebas negatif USD39,2 juta atau sekitar Rp 662,48 miliar.
Dari sisi struktur keuangan, tekanan juga terlihat pada utang. Total utang bank mencapai USD281,6 juta atau sekitar Rp 4,76 triliun, sementara kas hanya USD28,3 juta atau Rp 478,27 miliar. Posisi ini menunjukkan leverage yang cukup tinggi.
Dolar Jadi Pembeda Penting
Selain harga minyak, faktor nilai tukar juga menjadi pembeda utama. WINS dan SHIP memiliki keunggulan karena menggunakan dolar sebagai mata uang fungsional. Pendapatan dan kewajiban mereka relatif seimbang dalam dolar sehingga risiko selisih kurs lebih terkendali.
Sebaliknya, TMAS menggunakan rupiah sebagai basis operasional. Kenaikan dolar dapat meningkatkan biaya, terutama untuk pembelian suku cadang dan belanja modal berbasis impor.
Dari keseluruhan gambaran, masing-masing emiten memiliki karakter berbeda. TMAS menjadi pemain terbesar namun paling sensitif terhadap kenaikan harga bahan bakar. WINS tampil paling seimbang dengan struktur keuangan yang sehat. Sementara SHIP menunjukkan potensi pertumbuhan tinggi dengan konsekuensi risiko yang juga lebih besar.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.