Logo
>

Trump Ultimatum Iran, Nikkei-Kospi justru Menguat Terbatas

Saham Jepang dan Korea Selatan menguat di tengah ancaman Donald Trump ke Iran.

Ditulis oleh Syahrianto
Trump Ultimatum Iran, Nikkei-Kospi justru Menguat Terbatas
Ilustrasi: Layar yang menampilkan beberapa indeks saham dunia. (Foto: Open Grid Scheduler/Grid Engine)

KABARBURSA.COM – Saham Jepang dan Korea Selatan menguat pada perdagangan Senin, 6 April 2026, sementara sebagian besar pasar Asia lainnya tutup karena libur, di tengah perhatian investor terhadap perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah selama akhir pekan.

Seperti dilansir CNBC, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 0,62 persen, sementara indeks Topix yang lebih luas naik 0,23 persen.

Di Korea Selatan, indeks unggulan Kospi menguat 1,8 persen, sedangkan indeks saham lapis kecil Kosdaq naik 0,98 persen.

Sebagian besar pasar Asia tutup pada Senin karena libur, dengan Australia, Selandia Baru, dan Hong Kong merayakan Paskah, sementara China daratan dan Taiwan memperingati Festival Qingming atau hari ziarah kubur.

Sementara itu, kontrak berjangka saham di Wall Street melemah pada perdagangan semalam seiring investor terus mencermati perkembangan perang AS-Iran dan pergerakan harga minyak. 

Futures Dow Jones Industrial Average turun 253 poin atau 0,5 persen, sedangkan futures S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing melemah 0,6 peren  dan 0,7 persen.

Presiden Donald Trump pada Minggu, 5 April 2026 mengeluarkan ancaman baru untuk menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur sipil Iran mulai Selasa, jika Teheran gagal membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.

Jalur strategis minyak antara Iran dan Semenanjung Arab tersebut sebelumnya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang antara AS-Israel dan Iran pecah pada 28 Februari.

Dalam unggahan media sosial yang sarat kata-kata kasar, Trump bersumpah akan membawa "neraka” ke Iran setelah pasukan AS menyelamatkan seorang pilot Amerika di Iran pekan lalu.

Ia kemudian menyebut tenggat waktu “Selasa pukul 20.00 Waktu Timur AS” tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Gedung Putih pada Minggu, 5 April 2026 menyatakan kepada MS NOW bahwa waktu tersebut merupakan batas baru bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Trump juga mengatakan akan menggelar konferensi pers “bersama pihak militer” di Oval Office pada Senin, 6 April 2026 pukul 13.00 waktu setempat.

Iran menolak ultimatum Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz, dengan menyatakan bahwa jalur vital tersebut hanya akan dibuka sepenuhnya setelah kerusakan akibat perang mendapat kompensasi. 

Teheran juga terus melancarkan serangan terhadap target ekonomi dan infrastruktur di kawasan Teluk, termasuk kantor pusat minyak Kuwait.

Delapan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya pada Minggu menaikkan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei. 

Namun, langkah ini dinilai lebih bersifat simbolis karena perang telah membatasi pengiriman dari sejumlah anggota.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei naik 2,57 persen ke level USD114,11 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan global menguat sekitar 2,62 persen menjadi USD111,65 per barel.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.