Logo
>

Turun Kasta di MSCI, Indo Premier Sebut Peluang Besar AMRT

AMRT dinilai masih punya ruang pertumbuhan kuat meski terdepak dari MSCI Standard Index. Kenaikan harga barang kebutuhan pokok hingga efisiensi operasional mulai jadi sorotan analis.

Ditulis oleh Yunila Wati
Turun Kasta di MSCI, Indo Premier Sebut Peluang Besar AMRT
Selain fundamental yang masih sangat kuat, smae store sales growth atau SSSG AMRT diperkirakan masih akan bergerak di level mid-single digit secara tahunan. (Foto: dok AMRT)

KABARBURSA.COM – Ada yang menarik dari saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) setelah didepak keluar dari MSCI Global Standard Index dan turun tahta ke Small Caps. Bahkan, Indo Premier Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi buy untuk AMRT. Saham itu ditarget di harga Rp2.600 per saham. 

Pasar tampaknya mulai melihat bahwa tekanan akibat rebalancing MSCI kemungkinan lebih bersifat teknikal jangka pendek. Sementara dari sisi fundamental, pertumbuhan bisnis AMRT justru masih dinilai cukup solid hingga beberapa tahun ke depan.

Salah satu fokus utama analis saat ini ada pada pertumbuhan same store sales growth atau SSSG pada kuartal II 2026. Indo Premier memperkirakan pertumbuhan penjualan gerai sejenis AMRT masih akan bergerak di level mid-single digit secara tahunan.

Optimisme tersebut muncul setelah permintaan pasca-Lebaran disebut masih cukup kuat. Bahkan, perusahaan mengungkapkan dorongan konsumsi juga datang dari belanja pemerintah melalui program MBG.

Selain itu, harga sejumlah produk berbasis plastik seperti air mineral dan minyak goreng mulai mengalami kenaikan. Kondisi tersebut dinilai bisa ikut mengangkat nilai penjualan AMRT karena model bisnis perusahaan berbasis cost-plus pricing.

Pasar juga mulai mengingat pola yang pernah terjadi pada 2022. Saat itu, pertumbuhan SSSG AMRT sempat melonjak hingga 9,1 persen ketika produsen barang kebutuhan pokok menaikkan harga akibat lonjakan biaya bahan baku.

Kini situasi serupa mulai kembali muncul. Harga minyak Brent tercatat melonjak sekitar 61,7 persen secara tahunan sehingga pasar mulai membuka kemungkinan adanya kenaikan harga produk personal care dan kebutuhan pokok pada semester II 2026.

Jika skenario tersebut terjadi, efek limpahan kenaikan harga atau spillover effect diperkirakan dapat ikut menopang pertumbuhan penjualan AMRT. Dengan kata lain, kenaikan harga barang justru berpotensi membantu pertumbuhan pendapatan ritel modern.

Dari sisi operasional, pasar juga mulai melihat ruang perbaikan margin yang cukup besar. Dalam tiga tahun terakhir, AMRT memang agresif membuka pusat distribusi atau distribution center baru untuk mendukung ekspansi gerai.

Sejak 2023 hingga 2025, perusahaan telah membuka enam pusat distribusi baru. Dampaknya, rasio beban operasional terhadap penjualan sempat naik dari 17,8 persen pada 2022 menjadi 19,3 persen pada 2025.

Namun tekanan tersebut mulai mereda. Pada kuartal I 2026, rasio opex terhadap penjualan turun menjadi 18,5 persen karena perusahaan mulai memasuki fase normalisasi investasi distribusi.

Manajemen bahkan memberi sinyal tidak akan membuka pusat distribusi baru dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Artinya, pasar mulai membaca fase ekspansi capex besar AMRT sudah mulai lewat dan ruang efisiensi kini semakin terbuka.

Dari sisi valuasi, AMRT juga mulai terlihat lebih murah dibanding rata-rata historisnya. Saat ini saham diperdagangkan di sekitar 15,6 kali PE FY2026, atau sekitar 1,6 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahunnya.

Indo Premier memproyeksikan pendapatan AMRT akan terus tumbuh dari Rp126,7 triliun pada 2025 menjadi Rp138,9 triliun pada 2026. EBITDA diperkirakan naik menjadi Rp8,89 triliun dengan laba bersih mencapai Rp3,84 triliun.

Kenaikan tersebut diperkirakan terus berlanjut hingga 2028. Pada tahun itu, laba bersih AMRT diproyeksikan mencapai Rp4,65 triliun dengan EPS sekitar Rp112 per saham.

Yield dividen juga mulai terlihat membaik. Setelah berada di kisaran 2 persen pada 2024, dividend yield AMRT diperkirakan naik menjadi 3,7 persen pada 2026 dan berpotensi mencapai 4,6 persen pada 2028.

Meski begitu, pasar masih tetap mewaspadai satu risiko utama, yakni perlambatan daya beli masyarakat. Sebab apabila konsumsi domestik kembali melemah, pertumbuhan SSSG AMRT bisa ikut melambat.

Namun untuk saat ini, cerita AMRT tampaknya mulai berubah. Dari saham yang sempat ditekan akibat keluar dari MSCI, menjadi saham ritel yang justru mulai dilirik karena valuasi murah dan proyeksi pertumbuhan yang masih terjaga.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79