Logo
>

Wall Street Melemah, S&P 500 Tiga Pekan Turun Beruntun

Kontrak futures indeks utama AS bergerak turun ketika harga minyak menembus USD100 per barel di tengah konflik AS–Iran dan ketegangan di Selat Hormuz.

Ditulis oleh Syahrianto
Wall Street Melemah, S&P 500 Tiga Pekan Turun Beruntun
Ilustrasi: Plang nama jalan Wall Street (Foto: PxHere)

KABARBURSA.COM – Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak melemah tipis ketika Wall Street berupaya pulih dari pekan perdagangan yang kembali berakhir negatif. Investor juga memantau pergerakan harga minyak serta perkembangan terbaru dari konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Seperti dilansir CNBC, futures Dow Jones Industrial Average turun 81 poin atau sekitar 0,2 persen. Sementara itu, futures S&P 500 turun 0,2 persen dan futures Nasdaq-100 melemah 0,3 persen.

Pergerakan tersebut terjadi setelah S&P 500 mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut dan ditutup pada level terendah sepanjang tahun ini pada perdagangan Jumat. Indeks acuan itu berakhir turun sekitar 1,6 persen selama sepekan, sementara Dow Jones dan Nasdaq masing-masing melemah sekitar 2 persen dan 1,3 persen.

Harga minyak melonjak sepanjang pekan lalu. Minyak Brent ditutup di atas USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022. Kenaikan harga terjadi setelah aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur pengiriman energi yang sangat penting, secara efektif terhenti sejak perang dimulai.

Pada awal perdagangan, minyak mentah WTI naik sekitar 2 persen menjadi USD100,88 per barel, sementara minyak Brent menguat 2,6 persen menjadi USD105,81 per barel.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran yang berada di Pulau Kharg. Meskipun serangan tersebut tidak berdampak pada infrastruktur minyak, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat mempertimbangkan menyerang fasilitas energi tersebut jika Iran terus memblokir Selat Hormuz.

Trump juga mengatakan kepada NBC pada akhir pekan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan, namun ia belum siap untuk melakukannya.

Sentimen pasar sedikit terbantu pada awal pekan setelah laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa Amerika Serikat akan mengumumkan koalisi sejumlah negara untuk mengawal kapal yang melintas di Selat Hormuz, mengutip sejumlah pejabat.

Meski ketegangan geopolitik meningkat, aksi jual di pasar saham relatif terbatas. S&P 500 masih berada sekitar 5 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada awal tahun ini.

“Ketahanan S&P 500 tampaknya didorong oleh meningkatnya optimisme analis terhadap proyeksi laba per saham untuk 2026 dan 2027,” tulis Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni. “Tampaknya mereka belum sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan dampak negatif dari perang berkepanjangan dan penutupan Selat Hormuz.”

Selain perkembangan harga minyak dan konflik geopolitik, investor juga akan mencermati agenda perusahaan teknologi Nvidia yang memulai konferensi GTC pada Senin.

Di sisi lain, Federal Reserve juga dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter kedua tahun ini. Namun pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat tersebut tidak akan mengubah suku bunga dalam pertemuan tersebut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.