KABARBURSA.COM – PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) membagikan dividen interim sebesar Rp141,6 miliar di tengah capaian laba bersih yang mencapai Rp177,02 miliar pada kuartal I 2026.
Melansir dari keterbukaan informasi publik, dividen tersebut setara Rp16,5742141148 per saham dan akan dibayarkan pada 29 Mei 2026. Dengan laba kuartal I sebesar Rp177,02 miliar, keputusan ini menempatkan sebagian besar keuntungan langsung dialokasikan sebagai imbal hasil bagi investor dalam jangka pendek.
Di sisi fundamental, kinerja YUPI masih menunjukkan konsistensi. Secara trailing twelve months (TTM), laba bersih mencapai Rp623 miliar dengan margin laba bersih 23,20 persen dan return on equity (ROE) sebesar 35,88 persen.
Arus kas juga berada dalam posisi kuat, dengan free cash flow sebesar Rp848 miliar dan kas mencapai Rp893 miliar pada periode terakhir, yang menjadi penopang utama kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen.
Struktur keuangan perusahaan juga relatif sehat. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) tercatat 0,50 dengan current ratio 3,12, menunjukkan likuiditas yang memadai di tengah distribusi laba yang besar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pembagian dividen tidak terjadi di tengah tekanan likuiditas.
Namun, dari sisi valuasi pasar, saham YUPI saat ini diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) 21,05 kali, jauh di atas median PER IHSG sebesar 8,91 kali. Price to book value (PBV) berada di level 7,55 kali, yang mencerminkan penilaian pasar yang relatif tinggi terhadap kinerja dan prospek perusahaan.
Pergerakan harga saham menunjukkan dinamika yang tidak sepenuhnya sejalan dengan fundamental tersebut. Mengutip dari Stockbit, saham YUPI berada di level Rp1.535, menguat 0,66 persen secara harian.
Dalam satu pekan terakhir, saham hanya naik tipis 0,33 persen, sementara dalam satu bulan menguat 1,99 persen. Secara tahunan, saham justru masih terkoreksi 9,44 persen.
Kombinasi antara laba yang tetap terjaga, arus kas yang kuat, serta pembagian dividen yang signifikan menunjukkan konsistensi kinerja operasional YUPI.
Namun, di sisi lain, valuasi yang relatif premium dan pergerakan harga saham yang belum sepenuhnya pulih menggambarkan respons pasar yang lebih terbatas terhadap kinerja tersebut.(*)