KABARBURSA.COM - Perdagangan ekuitas di Wall Street berakhir tipis di zona positif pada Kamis waktu setempat, setelah melewati sesi yang sarat turbulensi. Harga minyak yang berbalik melemah serta dinamika terbaru perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran membuat psikologi pasar bergerak fluktuatif sepanjang hari.
Pada awal sesi, indeks-indeks utama sempat terseret ke wilayah negatif. Namun menjelang penutupan, bursa New York berhasil memulihkan tenaga dan mencatat kenaikan moderat. Pergeseran arah itu berlangsung ketika reli harga minyak kehilangan momentum, sementara pelaku pasar masih dibayangi lanskap geopolitik yang penuh ambiguitas.
Indeks Dow Jones Industrial Average melesat 276,31 poin atau 0,55 persen ke level 50.285,66 dan mencetak rekor penutupan anyar. Sementara itu, S&P 500 bertambah 12,75 poin atau 0,17 persen menjadi 7.445,72. Nasdaq Composite turut menguat 22,74 poin atau 0,09 persen ke posisi 26.293,10, sebagaimana dilaporkan Reuters dari New York pada Kamis 21 Mei waktu setempat atau Jumat 22 Mei 2026 pagi WIB.
Di ranah geopolitik, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengungkap adanya sinyal konstruktif dalam dialog dengan Iran. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa kompromi diplomatik bakal sulit diwujudkan apabila Teheran tetap memberlakukan skema pungutan di Selat Hormuz—jalur maritim vital bagi distribusi minyak global.
Di sisi lain, seorang sumber senior Iran kepada Reuters menyatakan bahwa kesepakatan final dengan Washington masih belum tercapai, walaupun jarak perbedaan dalam negosiasi disebut mulai menyempit. Program pengayaan uranium Iran dan otoritas atas Selat Hormuz masih menjadi simpul persoalan yang belum terurai.
Chief of Investment Strategy Glenmede, Jason Pride, menilai volatilitas pasar saat ini dipantik oleh respons investor terhadap spekulasi geopolitik yang berubah sangat cepat. Menurut dia, fokus pelaku pasar kini kembali mengarah ke Iran setelah musim publikasi laporan keuangan emiten nyaris rampung.
Ia menambahkan, valuasi pasar telah berada pada level tinggi yang banyak ditopang pertumbuhan laba korporasi. Situasi tersebut membuat ruang bagi kejutan positif menjadi semakin sempit. Akibatnya, pergerakan indeks dalam jangka pendek amat rentan terhadap rumor maupun perkembangan konkret terkait proses negosiasi Iran.
Sementara itu, Chief Investment Officer Huntington Wealth Management, Marc Dizard, menyebut gencatan senjata yang rapuh masih bertahan dan sedikit menopang sentimen pasar. Meski demikian, ia menekankan bahwa ketidakpastian tetap dominan karena hanya lingkaran inti di Iran dan Amerika Serikat yang mengetahui perkembangan pembicaraan secara riil.
Dari sektor korporasi, investor juga mencermati kinerja sejumlah perusahaan raksasa Amerika Serikat. Saham Walmart terperosok 7,3 persen setelah peritel terbesar dunia tersebut memproyeksikan laba kuartal kedua di bawah estimasi pasar serta mempertahankan panduan target tahunan tanpa perubahan.(*)