KABARBURSA.COM - Indeks Bursa Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat tipis pada perdagangan Senin, 27 April 2026. Catatan ini tidak lepas dari sikap investor yang mencermati beberapa sentimen.
Mengutip Reuters, S&P 500 ditutup di level 7.174,01, naik 0,12 persen atau 8,93 poin. Hal serupa juga dialami Nasdaq Composite yang meningkat 49,78 poin, atau 0,20 persen ke level 24.886,38.
Akan tetapi, indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penutunan 57,82 poin, atau 0,12 persen hingga ditutup ke level 49.172,89.
Reuters melaporkan, investor mengambil napas sejenak di awal pekan yang penuh peristiwa dengan laporan pendapatan, data ekonomi, keputusan suku bunga Federal Reserve AS, dan pasang surut ketegangan di Timur Tengah.
Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth mengatakan pasar hanya mencoba mengatasi reli yang telah terjadi dan mencerna rekor tertinggi sepanjang masa terbaru yang telah dicapai indeks.
"Dan pasar mencoba mencari tahu apakah rekor tertinggi sepanjang masa tersebut dapat dibenarkan atau tidak." ujar dia.
Musim laporan keuangan kuartal I 2026 telah mencapai puncaknya, dengan sejumlah perusahaan ternama dijadwalkan untuk melaporkan hasilnya minggu ini, termasuk lima dari tujuh perusahaan teknologi raksasa seperti Amazon, Alphabet, Meta Platforms, Apple, dan Microsoft.
Investor akan menilai sejauh mana perusahaan-perusahaan ini mulai menuai manfaat dari pengeluaran besar-besaran untuk kecerdasan buatan.
Hingga Jumat, 139 perusahaan di S&P 500 telah merilis hasil kuartal I 2026. Dari jumlah tersebut, 81 perse melampaui perkiraan. Analis kini memperkirakan pertumbuhan pendapatan agregat S&P 500 sebesar 16,1 persen secara tahunan, naik dari 14,4 persen pada 1 April, menurut LSEG I/B/E/S.
Menurut Raymond James, perusahaan-perusahaan yang akan melaporkan hasil keuangan minggu ini mencakup sekitar 44 peren dari kapitalisasi pasar S&P 500.
"Prognosisnya cukup bagus. Kami melihat pertumbuhan pendapatan sebesar 15 persen dan saya akan mengklasifikasikan itu sebagai lingkungan yang sangat baik, kecuali jalan yang harus ditempuh menjadi jauh lebih berliku," tambah Pavlik, merujuk pada ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Upaya untuk menghidupkan kembali perundingan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus berlanjut setelah keputusan Presiden AS, Donald Trump membatalkan kunjungan para negosiator ke Islamabad untuk putaran pembicaraan tatap muka berikutnya.
Sementara, Iran terus membatasi pengiriman melalui Selat Hormuz, dengan para pejabat Iran menuntut agar Washington mencabut blokade tersebut sebagai prasyarat untuk negosiasi lebih lanjut.
Di sisi lain, Federal Reserve dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan kebijakan selama dua hari, yang secara luas diperkirakan akan berujung pada keputusan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah.
Pernyataan yang menyertainya dan konferensi pers Ketua Fed Jerome Powell akan dicermati untuk mencari petunjuk mengenai penilaian bank sentral terhadap kesehatan ekonomi AS dan dampak inflasi dari lonjakan harga energi akibat perang AS-Israel di Iran. (*)