KABARBURSA.COM – Lonjakan harga BBM di Amerika Serikat (AS) memicu pergeseran minat konsumen ke kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV).
The Guardian melaporkan, kenaikan harga BBM di AS terjadi setelah keputusan Donald Trump menyerang Iran yang mendorong gejolak harga minyak global.
Harga rata-rata bensin nasional di AS kini mencapai USD3,90 per galon, naik sekitar 30 persen atau berada di level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Kenaikan harga BBM AS dipicu konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran sebagai salah satu produsen minyak utama, serta penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dunia.
Di tengah tekanan biaya energi, konsumen AS mulai mencari alternatif. Data platform pembelian mobil CarEdge mencatat, pencarian kendaraan listrik melonjak 20 persen dalam tiga pekan sejak konflik memanas.
“Anda melihat bahwa dalam waktu 48 jam setelah perang dimulai, terjadi lonjakan. Ini berhubungan langsung dengan berita tersebut,” kata Justin Fischer, analis otomotif di CarEdge dikutip KabarBursa.com, Rabu, 25 Maret 2026.
Fisher menyatakan, minat mobil listrik di AS bisa terus meningkat apabila harga bensin tidak kunjung stabil.
“Jika kita melihat harga bensin yang lebih tinggi ini berlanjut selama sebulan atau lebih, kita akan melihat angka yang semakin besar," ucapnya.
Tren serupa juga dicatat oleh Edmunds. Kepala wawasan Edmunds, Jessica Caldwell menyebutkan bahwa lonjakan harga bensin kini menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian kendaraan.
“Bensin bukanlah sesuatu yang bisa Anda hindari, itu ada di depan mata. Anda melihat biayanya setiap kali mengisi bensin. Ini juga yang menjadi bahan pembicaraan bagi banyak orang," jelasnya.
Meski minat terhadap EV meningkat, belum ada kepastian tren ini akan bertahan lama. Pasar mobil listrik di AS masih tertinggal dibanding negara maju lain semisal China, terutama dari sisi infrastruktur pengisian daya dan kebijakan.
Sejumlah kebijakan terbaru dari pemerintahan Trump juga dinilai menahan laju adopsi EV. Insentif kendaraan listrik era Joe Biden mulai dihapus, sementara regulasi efisiensi bahan bakar dilonggarkan.
Hal ini mendorong produsen kendaraan kembali fokus pada SUV dan truk pikap berbahan bakar fosil.
Beberapa produsen seperti Ford, Nissan, dan Honda bahkan mulai mengurangi atau menghentikan lini kendaraan listrik mereka di pasar AS.
Di sisi lain, segmen mobil listrik bekas mulai dilirik, terutama oleh konsumen berpenghasilan rendah yang terdampak kenaikan harga BBM.
Beragam model EV seperti Tesla, Chevrolet Equinox EV, dan Nissan Leaf kini dilaporkan semakin terjangkau di pasar mobil bekas Negeri Paman Sam.
“Anda bisa mendapatkan mobil listrik bekas yang cukup bagus dengan harga di bawah USD25.000 (Rp420 jutaan). Ini cukup layak," sebut Caldwell.
Selain EV, permintaan mobil hybrid juga diprediksi ikut terdongkrak. Model seperti Toyota Camry dan Toyota RAV4 menjadi alternatif bagi konsumen yang belum siap beralih ke mobil listrik.
“Saya pikir mobil hibrida akan melesat, kita akan melihat lonjakan penjualan yang sangat besar di sana,” kata Fischer.
Secara keseluruhan, pangsa pasar EV di AS masih terbatas. Tahun lalu, kendaraan listrik hanya menyumbang 7,8 persen dari total penjualan mobil, bahkan sedikit menurun dibanding tahun 2024.
Meski demikian, tren global menunjukkan arah berbeda. Di pasar otomotif dunia, satu dari lima mobil baru yang terjual kini merupakan kendaraan listrik.
Bahkan di Norwegia, penjualan mobil bensin hampir punah dengan hanya terjual tujuh unit pada Januari lalu.
“Produsen mobil Amerika menyadari bahwa kendaraan listrik jelas merupakan strategi jangka panjang, tetapi mereka dapat menghasilkan banyak uang dalam jangka pendek dengan SUV dan truk pikap,” kata Caldwell.
Ia menambahkan, dominasi China dalam produksi massal EV juga menjadi tantangan tersendiri bagi industri otomotif AS, terutama di tengah ketidakpastian kebijakan yang terus berubah.(*)