KABARBURSA.COM — Industri otomotif nasional menghadapi tekanan ganda dari kenaikan biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat. Dalam situasi tersebut, produsen kendaraan disebut menahan kenaikan harga mobil meskipun beban biaya terus meningkat.
Pengamat otomotif Bebin Djuana mengatakan, praktik menunda penyesuaian harga pernah dilakukan industri pada masa lalu ketika biaya produksi meningkat. Namun, menurut dia, kebijakan tersebut memiliki batas waktu.
“Menahan harga itu pernah dilakukan industri ini di masa lampau. Saya katakan harga tidak serta-merta dilakukan adjustment, tidak dilakukan penyesuaian, tetapi ditunda,” kata Bebin kepada KabarBursa.com, beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, penundaan penyesuaian harga tidak bisa dilakukan terus menerus karena tekanan biaya produksi pada akhirnya akan memengaruhi industri.
“Kalau ada kata-kata ditunda, sampai kapan, tentu ada batasnya, tidak bisa ditunda terus menerus,” ujarnya.
Daya Beli Lemah Tekan Permintaan
Tekanan yang dihadapi industri otomotif juga berkaitan dengan kondisi daya beli masyarakat. Bebin menilai situasi ekonomi saat ini tidak sepenuhnya mendukung penjualan kendaraan baru.
“Kondisi daya beli sedang jelek, ekonomi carut-marut kena kejadian begini (perang Iran) harga minyak naik harga minyak itu memengaruhi semua sampai urusan mendasar: sandang, pangan, papan, kena semua,” kata dia.
Menurut Bebin, kondisi tersebut membuat industri otomotif menghadapi situasi yang tidak mudah.
“Kalau otomotif, ya sudah lah. Kondisinya buruk sekali, situasinya memang sedang tidak berpihak. Industri otomotif memang sedang sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil nasional memang mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir. Penjualan wholesales tercatat sebanyak 865.723 unit pada 2024, turun 13,9 persen dibandingkan 2023 yang mencapai 1.005.802 unit.
Penurunan berlanjut pada 2025 dengan total penjualan sekitar 803.687 unit atau turun sekitar 6–7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang Januari hingga November 2025, penjualan tercatat 710.084 unit atau sekitar 10 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Pada awal 2026, pasar menunjukkan tanda pemulihan terbatas dengan penjualan wholesales Januari mencapai 66.447 unit, naik sekitar 7 persen secara tahunan dibandingkan Januari 2025.
Biaya Energi dan Inflasi Meningkat
Selain melemahnya permintaan domestik, industri otomotif juga menghadapi tekanan dari kenaikan biaya energi dan inflasi. Harga minyak global sempat menembus USD100 per barel dalam beberapa waktu terakhir akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan biaya logistik dan distribusi kendaraan. Di sisi lain, inflasi domestik juga meningkat. Data menunjukkan inflasi Indonesia pada Februari 2026 mencapai 4,76 persen secara tahunan, lebih tinggi dari kisaran target Bank Indonesia yang berada di rentang 1,5 hingga 3,5 persen.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga yang menjadi salah satu indikator daya beli masyarakat tumbuh 4,98 persen sepanjang 2025. Pada kuartal IV 2025, konsumsi tercatat tumbuh 5,11 persen secara tahunan, namun laju tersebut masih belum cukup kuat untuk mendorong permintaan barang tahan lama seperti kendaraan.
Sejumlah laporan industri juga mencatat bahwa penjualan mobil di Indonesia masih menghadapi tantangan akibat kecenderungan masyarakat menunda pembelian kendaraan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.(*)