KABARBURSA.COM - Honda secara mengejutkan menghentikan produksi mobil hidrogen dari model CR-V Fuel Cell Electric Vehicle (e:FCEV).
Padahal mobil hidrogen seperti CR-V e:FCEV bisa dibilang menjadi proyek jangka panjang elektrifikasi dari pabrikan asal Jepang.
Carscoops melaporkan, langkah suntik mati CR-V e:FCEV sebagai imbas disetopnya produksi sistem sel bahan bakar hasil kerja sama Honda dengan raksasa otomotif asal Amerika Serikat, General Motors.
Lebih lanjut, Honda mengonfirmasi bahwa CR-V e:FCEV akan segera menyusul ke daftar model yang dihentikan, setelah stok sistem sel bahan bakar habis.
Pengumuman ini menyusul keputusan Honda menghentikan produksi sel bahan bakar yang saat ini dibuat oleh perusahaan patungan Fuel Cell System Manufacturing (FCSM) pada akhir tahun 2025.
Diketahui, sistem tersebut selama ini menjadi jantung penggerak CR-V e:FCEV, satu-satunya Sport Utility Vehicle (SUV) hidrogen Honda saat ini.
Dalam pernyataan resminya, Honda menegaskan, produksi CR-V hidrogen sangat bergantung pada ketersediaan sel bahan bakar tersebut, meskipun ada opsi lain yang akan dilakukan.
“Produksi CR-V e:FCEV akan berlanjut di Performance Manufacturing Center di Ohio (Amerika Serikat) hingga semua sistem sel bahan bakar yang saat ini diproduksi di FSCM habis atau dialokasikan untuk tujuan lain," sebut keterangan resmi Honda dikutip dari Carscoops, Senin, 26 Januari 2026.
Artinya setelah fase itu berakhir, Honda CR-V hidrogen akan resmi dihentikan dan mengikuti jejak Honda Clarity Fuel Cell.
Meski belum ada tanggal pasti penghentian produksi, Honda memastikan bahwa CR-V e:FCEV masih tersedia untuk disewa konsumen di wilayah California.
Sejauh ini, Honda mengungkap telah menyewakan sekitar 200 unit kendaraan tersebut. Angka ini tergolong kecil, namun sejalan dengan karakter pasar kendaraan hidrogen yang sangat terbatas.
Sebagai perbandingan, Toyota Mirai yang tergolong sebagai FCEV juga hanya mampu terjual sebanhak 210 unit sepanjang 2025.
Perolehan tersebut menggambarkan besarnya tantangan adopsi kendaraan berbahan bakar hidrogen di pasar otomotif global.
Sebagai informasi, Honda CR-V e:FCEV diluncurkan pada 2024 silam dan hanya dipasarkan melalui 12 dealer di California.
Honda CR-V hidrogen dapat dimiliki dengan opsi skema sewa selama tiga tahun dengan tarif USD459 (Rp7,6 jutaan) per bulan, uang muka USD2.959 (Rp49 jutaan), hingga kredit bahan bakar hidrogen sebesar USD15.000 (Rp251 jutaan) untuk masa sewa tiga tahun.
Jenama otomotif asal Negeri Sakura ini membekali model tersebut dengan fitur pintu bagasi elektrik, velg diameter 18 inci, jok kulit, kursi dan setir berpemanas, panel instrumen digital 10,2 inci, layar sistem infotainment 9 inci, sampai audio premium Bose dengan 12 speaker.
Honda CR-V e:FCEV mengusung kombinasi sel bahan bakar hidrogen dan sistem plug-in hybrid. Sistem ini memungkinkan jarak tempuh listrik murni hingga 47 km, sekaligus menekan konsumsi hidrogen.
Kemampuannya ditunjang baterai berkapasitas 17,7 kWh dan tangki hidrogen 4,3 kg. Tenaga yang disalurkan ke motor listrik depan diklaim hingga 174 HP (Horse Power) dengan torsi puncak 310 Nm (Newton meter). Secara akumulatif, CR-V hidrogen mampu menjangkau jarak tempuh gabungan 435 km.
Meski CR-V e:FCEV stop produksi, Honda menegaskan tidak akan meninggalkan teknologi hidrogen. Perusahaan telah menyiapkan sel bahan bakar generasi terbaru yang dikembangkan secara mandiri.
Inovasi hidrogen Honda, nantinya akan digunakan untuk memperluas peluang bisnis kendaraan hidrogen sebagai salah satu bisnis inti baru Honda.
Ke depannya, Performance Manufacturing Center di Ohio, yang sebelumnya memproduksi Acura NSX juga akan dialihkan untuk memproduksi kendaraan listrik niaga bernama Fastport eQuad. (*)