Logo
>

Indonesia dan Jepang Kolaborasi Dorong Produksi E10 dan B50

Indonesia dan Jepang memperkuat kerja sama pengembangan biofuel sebagai bagian dari strategi transisi energi menuju target Net Zero Emission 2060.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Indonesia dan Jepang Kolaborasi Dorong Produksi E10 dan B50
Ilustrasi biofuel. Foto: freepix

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pemerintah Indonesia menegaskan strategi transisi energinya tidak akan bergantung sepenuhnya pada kendaraan listrik. Melalui The 1st Biofuel Co-Creation Task Force Meeting yang digelar bersama Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI), Indonesia mendorong pengembangan biofuel sebagai energi alternatif yang realistis dalam mencapai target Net Zero Emission pada 2060.

    Pertemuan yang berlangsung di Jakarta, 11 November 2025, menjadi tindak lanjut dari The 6th Indonesia–Japan Automobile Dialogue.

    Forum ini memperkuat pendekatan “multiple pathways” dalam kebijakan energi dan industri otomotif nasional — di mana kendaraan listrik, bioetanol, biodiesel, dan bahan bakar nabati lainnya berjalan berdampingan sebagai bagian dari peta jalan dekarbonisasi nasional.

    Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Setia Diarta menjelaskan bahwa biofuel menjadi bagian penting dalam program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang dijalankan pemerintah.

    “Pemerintah berkomitmen kuat untuk mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060, dan komitmen ini didukung penuh oleh Kemenperin melalui program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV),” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip KabarBursa.com, Kamis, 13 November 2025.

    Program ini mencakup pengembangan mesin fleksibel yang mampu menggunakan bahan bakar nabati dan mendukung keberlanjutan industri dari hulu hingga hilir.

    “Kami berharap inisiatif-inisiatif ke depan dapat memberikan dampak nyata di seluruh rantai industri, baik hulu maupun hilir, guna mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan kemakmuran bersama,” tambah Setia.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa pemerintah sedang memperluas penerapan energi nabati di sektor transportasi.

    “Saat ini pemerintah melaksanakan berbagai program biofuel seperti biodiesel, bioetanol, bioavtur/SAF, dan green diesel atau hydrotreated vegetable oil (HVO),” jelasnya.

    Pemerintah menargetkan penerapan E10 pada 2028. “Keberhasilan implementasinya perlu dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, terutama dalam peningkatan infrastruktur pendukung,” lanjut Eniya.

    Dalam forum tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Rachmat Kaimuddin menambahkan, pengembangan biofuel juga berperan penting dalam menjaga ketahanan energi nasional.

    “Kami ingin mengeliminasi impor energi. Saat ini sekitar 20–30 persen energi di Indonesia masih impor, mayoritas berupa minyak untuk sektor transportasi. Dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2030, kami berupaya menjaga keberlanjutan fiskal nasional,” ujarnya.

    Melalui Biofuel Co-Creation Task Force, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama teknis dalam pengujian dan standardisasi bahan bakar E10 dan B50, serta rencana produksi etanol dan hydrotreated vegetable oil (HVO) pada 2027.

    Kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, dan komitmen global terhadap pengurangan emisi karbon.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Citra Dara Vresti Trisna

    Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.