KABARBURSA.COM - Insentif mobil listrik untuk tahun 2026 masih belum bisa dipastikan keberlanjutannya setelah berakhir pada akhir tahun lalu.Absennya insentif mobil listrik 2026 sementara ini diprakirakan dapat berdampak bagi bisnis otomotif produsen maupun permintaan unit dari konsumen.
Di samping itu penjualan mobil listrik tahun ini berpotensi mengalami tekanan, termasuk dalam program pembiayaan atau pembelian secara kredit oleh konsumen.
Direktur Penjualan, Pelayanan & Distribusi PT PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk atau Adira Finance memproyeksikan pembiayaan mobil listrik tahun 2026 terkait ada atau tidaknya insentif dari pemerintah.
"Insentif kendaraan listrik saya dengar sudah tidak berlaku lagi. Jadi ya apa boleh buat. Sedikit banyaknya akan berpengaruh," ujarnya kepada media saat ditemui di ajang IIMS 2026 di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.
Menurut Niko, pembiayaan dalam permintaan mobil listrik tahun ini akan dipengaruhi oleh harga dibanding insentif ataupun stimulus lain dari pemerintah.
"Berpengaruh kalau sampai harga kendaraannya naik. Tapi kalau harga tidak naik dari principal (agen pemegang merek), saya pikir itu enggak ada masalah," sebutnya.
Meski begitu, Adira Finance tampak cukup optimis dengan memasang target tinggi dalam nilai transaksi, selama gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 yang berlangsung 5-15 Februari ini.
Perusahaan berkode saham ADMF ini menargetkan peningkatan nilai transaksi sebanyak double digit dibanding IIMS 2025.
"IIMS tahun ini target dinaikkan sebanyak 15 sampai 20 persen. Jadi double digit. Karena kami lihat banyak produk kendadaan baru, harganya murah, dan semuanya makin terjangkau," ungkap Niko.
Dalam kesempatan lain, Adira Finance juga percaya diri dengan pasar pembiayaan kendaraan, khususnya di wilayah Jabodetabek menjelang bulan Ramadan hingga Lebaran Idulfitri tahun ini.
"Tren pembiayaan Ramadan tahun ini pasti naik. Proses approval pembiayaan tetap standar, cuma kami menganalisanya akan lebih dalam mengukur risiko supaya nasabah tetap dalam compliance(kepatuhan)," sebut Nanang Kurniawan, Head of Regional SSD Jabodetabek Adira Finance, kepada media di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.
Lebih lanjut ia memandang, mobil maupun motor listrik akan terus mengalami tren positif, termasuk yang terjadi di gelaran IIMS 2026.
"Pembiayaan kalau kami lihat di IIMS, Mobil listrik sedang ada tren kenaikan. Kalau motor, banyak brand China masuk. Itu juga cukup banyak antuasisme nasabah untuk kredit motor brand china," kata Nanang.
Ia menambahkan, sementara ini pasar pembiayaan kendaraan elektrifikasi relatif stabil meskipun insentif untuk tahun 2026 urung digulirkan.
Namun, Nanang melihat, pasar kendaraan elektrifikasi kendaraan roda empat terlihat lebih bergairah dibanding roda dua. Alasannya pasar tampak lebih butuh kendaraan listrik dengan jarak tempuh jauh.
"Kebijakan pemerintah sebenarnya belum banyak berubah, masih ada keringanan pajak, dan banyak lagi. Sehingga dalam pembiayaan belum banyak berubah. Pembiayaan Mobil konvensional tetap berjalan, cuma ada kecenderungan kenaikan di mobil listrik. Untuk persentasenya saya kurang tahu," jelas Nanang.
"Kalau motor listrik jujur tidak terlalu banyak, khususnya di Jabodetabek. Karena permintaan motor listrik belum terlalu signifikan. Mungkin karena jarak tempuhnya belum jauh dibandingkan seperti yang ada di mobil listrik. Jadi untuk penggunaannya, konsumen masih pikir-pikir," imbuhnya.
Diketahui, tren mobil elektrifikasi dapat terlihat dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang menunjukkan penjualan kendaraan listrik selama 2025 meningkat menjadi 175.144 unit. Sementara tahun 2024, industri otomotif nasional mampu menjual 103.228 unit.
Secara pangsa pasar, mobil berteknologi Hybrid Vehicle (HEV), Plug in Hybrid Vehicle (PHEV), sampai Battery Electric Vehicle (BEV) tumbuh dari 11,9 persen pada 2024 menjadi 21,8 persen sepanjang 2025.(*)