Logo
>

Mercedes Ubah Arah, Baby G-Class Batal Jadi Mobil Listrik

Mercedes-Benz ubah strategi Baby G-Class dari listrik murni ke hybrid di tengah melambatnya permintaan mobil listrik global.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Mercedes Ubah Arah, Baby G-Class Batal Jadi Mobil Listrik
Mercedes-Benz 'Baby G-Class' bakal usung mesin hybrid ketimbang EV. ini alasan pabrikan. Foto: Autoevolution

Poin Penting :

KABARBURSA.COM – Mercedes-Benz dilaporkan mengubah strategi pengembangan mobil listrik berjenis Compact SUV (Sport Utility Vehicle). Padahal proyek mobil listrik Mercedes-Benz ini cukup menarik karena mengusung gaya ikonik dari model G-Class. 

SUV listrik berbasis model Mercedes-Benz G-Class ini dirancang lebih mungil, dan kerap dijuluki sebagai “Baby G-Class”. 

Mengutip Response.jp, calon mobil baru Mercedes-Benz tersebut kabarnya ini tak lagi diproyeksikan sebagai mobil listrik murni, melainkan akan mengusung teknologi hybrid.

Perubahan arah ini terjadi di tengah melambatnya permintaan kendaraan listrik global. Awalnya, Baby G-Class dirancang sebagai SUV listrik entry-level dalam lini Mercedes-Benz, namun tetap mempertahankan karakter tangguh khas G-Class. 

Namun, dinamika pasar memaksa pabrikan asal Jerman tersebut berpikir ulang dan menyesuiakan strategi dengan kebutuhan konsumen. Bukan cuma Mercedes-Benz, Lamborghini juga menunda peluncuran Lanzador sebagai mobil listrik pertamanya setelah tahun 2030.

Lamborghini juga memilih elektrifikasi jenis hybrid berdasarkan kebutuhan pasar kendaraan premium dan sport yang kurang antusias terhadap EV.  

Sebagai informasi, G-Class pertama kali meluncur pada 1979 dan mengalami pembaruan besar terakhir pada 2018. Kini, Mercedes-Benz tengah menyiapkan generasi baru dalam versi lebih ringkas untuk menjangkau segmen yang lebih luas.

Secara desain, Baby G-Class akan tampil dengan bodi yang sepenuhnya baru serta dimensi lebih kecil, terutama dari sisi tinggi kendaraan.

Meski demikian, DNA desain G-Class tetap dipertahankan, seperti kaca depan tegak, siluet bodi berbentuk boxy alias mengotak, serta lampu depan bundar yang menjadi ciri khas. 

Perbedaannya, lampu LED siang hari atau Daytime Running Lights (DRL) akan berbentuk huruf “U”, bukan bergaya cincin seperti G-Class.

Bukan cuma itu, beberapa elemen ikonik G-Class juga ikut disederhanakan. Kisi-kisi depan akan hadir dengan desain baru, sementara lampu sein khas di atas fender turut dihilangkan. Engsel pintu eksternal yang selama ini menjadi ciri G-Class juga tidak lagi digunakan. 

Sebagai pembeda, bumper depan dan belakang dibuat lebih lebar. Di bagian belakang, nuansa G-Class tetap terasa lewat adanya dudukan ban serep dan posisi lampu yang rendah. Namun, desain lampu belakang Baby G-Class akan dibuat lebih horizontal dengan sudut yang lebih modern.

Performa Baby G-Class

Untuk dapur pacu, Baby G-Class versi hybrid akan mengandalkan perpaduan motor listrik dengan mesin 1.500 cc empat silinder turbo.

Sebagai gambaran, sistem serupa pada Mercedes-Benz CLA hybrid mampu menghasilkan tenaga hingga 211 Hp dan torsi 380 Nm dengan kemampuan akselerasi dari kecepatan 0–100 km/jam dalam 7,1 detik.

Langkah menghadirkan mesin hybrid ini sejalan dengan strategi terbaru CEO Mercedes-Benz, Ola Källenius yang menegaskan bahwa perusahaan masih akan mempertahankan model bermesin pembakaran internal hingga dekade 2030-an.

Dari sisi harga, Baby G-Class diperkirakan dibanderol sekitar USD80.000 dolar AS atau setara Rp1,3 miliar. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan varian listrik Mercedes-Benz G580 with EQ Technology yang menyentuh USD163.000 atau mencapai Rp2,7 miliar.

Peluncuran global SUV ini diproyeksikan berlangsung pada 2027. Di pasar, Baby G-Class berpotensi menjadi rival baru bagi Compact SUV premium seperti Land Rover Defender Sport.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.