Logo
>

Mitos Kebakaran Baterai Masih Hambat Adopsi Mobil Listrik

Survei global menunjukkan misinformasi soal kebakaran baterai masih menjadi hambatan utama adopsi mobil listrik di Indonesia dan dunia.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Mitos Kebakaran Baterai Masih Hambat Adopsi Mobil Listrik
Komunitas mobil listrik KOLEKSI dorong regulasi dan standar keselamatan terkait kebakaran EV. Foto: dok. KOLEKSI

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Salah satu penghambat dalam adopsi kendaraan listrik (EV) adalah risiko kebakaran baterai hinngga masalah instalasi perangkat isi daya di rumah.

    Masalah adopsi EV dari sisi konsumen tersebut, lebih banyak dipicu oleh misinformasi terutama bagi konsumen awam.

    Menurut survei Global EV Alliance (GEVA) 2025 yang dirilis pada November 2025 menunjukkan, sebanyak 77 persen dari 26.071 pengemudi EV di 30 negara masih diselimuti mitos terkait penggunaan EV.

    Mitos ini termasuk kekhawatiran kebakaran sebagai hambatan terbesar adopsi kendaraan listrik. Temuan ini mengindikasikan tantangan adopsi EV tidak hanya bersumber dari harga atau teknologi, tetapi juga persepsi publik.

    Dalam konteks transisi energi, persepsi masyarakat kerap menjadi faktor penentu. Misinformasi berpotensi menurunkan kepercayaan publik, membuat pembuat kebijakan lebih berhati-hati, serta memperlambat agenda pengurangan emisi dan perbaikan kualitas udara.

    Demi menjawab tantangan tersebut, Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) menggelar kegiatan bertajuk Zero Emission and Zero Accident pada 24 Januari 2026 di Museum Listrik Energi Baru, Taman Mini Indonesia, Jakarta.

    Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman nyata pengemudi EV sekaligus sarana edukasi keselamatan. KOLEKSI memandang, meluruskan mitos tidak berarti mengabaikan risiko. Risiko teknis seperti instalasi listrik rumah yang tidak standar atau potensi thermal runaway pada baterai mobil listrik tetap ada. 

    Namun, risiko tersebut sebenarnya dapat dicegah dan dikelola melalui standar keselamatan dan prosedur yang jelas.

    Pihak KOLEKSI menilai, Indonesia masih belum memiliki regulasi komprehensif terkait standar instalasi home charging, kompetensi teknisi, peralatan pemadam khusus baterai EV, serta SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam penanganan kebakaran kendaraan listrik.

    Absennya standar ini dinilai memperbesar ketidakpastian, baik dari pemerintah daerah maupun masyarakat. Ketua Umum KOLEKSI, Arwani menyatakan pentingnya mitigasi risiko kebakaran EV bagi semua pihak, khususnya untuk pengguna mobil listrik.

    “Mitigasi kebakaran mobil listrik sangat penting untuk meningkatkan keselamatan pengemudi dan penumpang,” kata Arwani lewat keterangan resmi, Sabtu, 24 Januari 2026.

    Oleh sebab itu, KOLEKSI mengundang para pakar untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya terkait cara mencegah dan menangani kebakaran mobil listrik. 

    "Selain para pakar, kami juga mengundang stake holder terkait, seperti Jasa Marga, di mana saat ini mulai banyak lalu Lalang mobil listrik di jalan tol, dan kami menyadari potensi insiden mobil listrik di jalan tol yang perlu penangan khusus,” sebut Arwani.

    Dari sisi penyedia infrastruktur energi, PLN menyatakan bahwa pihaknya juga tengah fokus memperbaiki aspek keselamatan demi mendukung adopsi EV bagi masyarakat.

    Ronny Afrianto, VP Komersialisasi Produk Niaga Divisi Pengembangan Produk Niaga (PPN) PLN menyatakan, keselamatan dan keamanan dalam penggunaan mobil listrik merupakan hal krusial.

    Namun, PLN tak bisa sendiri dalam mengatasi hambatan tersebut. Sebab dibutuhkan kerja sama dengan pihak terkait, seperti pemadam kebakaran, kepolisian, dan produsen mobil listrik untuk menangani kebakaran mobil listrik. 

    "Oleh karena itu PLN telah menerbitkan prosedur darurat untuk menghadapi kebakaran mobil listrik, termasuk pemutusan listrik dan evakuasi. Yang perlu terus dilakukan adalah edukasi kepada masyarakat tentang keselamatan penggunaan mobil listrik dan cara menghadapi kebakaran, termasuk pengembangan Infrastruktur yang aman," ungkap Ronny.

    Dalam industri otomotif nasional, isu keselamatan dan misinformasi merupakan salah satu kunci dalam elektrifikasi kendaraan. Tanpa standar keselamatan nasional yang jelas dan komunikasi publik berbasis data serta pengalaman pengguna, adopsi EV berisiko melambat.

    Keterlibatan komunitas pengguna, regulator, produsen, dan penyedia infrastruktur dibutuhkan untuk membangun kepercayaan pasar. 

    Ditambah kejelasan regulasi dalam keselamatan, tentu adopsi EV bisa berjalan lebih optimal. Sehingga hal ini akan berdampak positif bagi industri hingga investasi dalam sektor otomotif Indonesia.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Harun Rasyid

    Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.