Logo
>

Mobil Hidrogen Masih Kalah dari Mobil Listrik, Berikut Kalkulasinya

Mobil hidrogen menghadapi tantangan besar akibat biaya produksi, infrastruktur mahal, dan sulit bersaing dengan kendaraan listrik baterai.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Mobil Hidrogen Masih Kalah dari Mobil Listrik, Berikut Kalkulasinya
Ilustrasi mobil hidrogen Toyota. Foto: Toyota Eropa

Poin Penting :

KABARBURSA.COM – Biaya masih menjadi penghambat utama dalam pengembangan mobil hidrogen, ketika teknologi kendaraan berbasis sel bahan bakar mulai menunjukkan kematangan tetapi belum mampu bersaing secara ekonomi dengan kendaraan listrik berbasis baterai.

Data terbaru menunjukkan bahwa tekanan biaya terbesar datang dari komponen inti, terutama fuel-cell stack dan sistem penyimpanan hidrogen bertekanan tinggi.

Berdasarkan laporan Joint Research Centre (JRC) Uni Eropa pada 2025 mencatat biaya sistem sel bahan bakar untuk kendaraan berat berada di kisaran 300 euro per kW pada produksi sekitar 1.000 unit per tahun, dengan biaya stack mencapai sekitar 200 euro per kW. Pada volume produksi lebih rendah, biaya dapat meningkat hingga 600–700 euro per kW.

JRC juga menegaskan bahwa fuel-cell stack menyumbang sekitar 60–70 persen dari total biaya sistem. Jika berdasarkan hitungan, skala produksi masih menjadi faktor penentu utama dalam menekan harga teknologi ini.

Di sisi lain, sistem penyimpanan hidrogen turut menjadi sumber biaya signifikan. Departemen Energi Amerika Serikat (DOE) dalam laporan Januari 2025 memperkirakan biaya penyimpanan hidrogen bertekanan 700 bar berada di kisaran 16–21 dolar AS per kWh, tergantung skala produksi.

Pembaruan DOE pada April 2025 juga menyoroti bahwa material seperti carbon fiber masih menjadi komponen utama yang menjaga biaya tetap tinggi.

Perbandingan dengan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) menunjukkan kesenjangan yang belum tertutup. DOE mencatat harga kendaraan fuel cell (FCEV) untuk segmen midsize mencapai sekitar 48.493 dolar AS, sementara BEV di segmen yang sama berada di kisaran 36.394 dolar AS. 

Untuk kategori SUV, FCEV diperkirakan mencapai 56.732 dolar AS, dibandingkan BEV sebesar 41.329 dolar AS. DOE secara langsung menyebut bahwa “biaya penyimpanan hidrogen dan sel bahan bakar merupakan faktor utama yang menentukan tambahan biaya.”

Tekanan biaya juga terlihat pada kendaraan komersial. International Energy Agency (IEA) dalam Global EV Outlook yang dirilis 14 Mei 2025 menyatakan bahwa truk berbasis sel bahan bakar masih lebih mahal dibandingkan truk listrik baterai di China, Eropa, dan Amerika Serikat hingga setidaknya 2030.

Sementara itu, teknologi pesaing justru semakin murah. BloombergNEF pada 19 Desember 2025 melaporkan harga baterai lithium-ion global turun menjadi rata-rata 108 dolar AS per kWh, memperlebar tantangan kompetitif bagi kendaraan hidrogen.

Dari sisi adopsi, skala pasar mobil hidrogen masih jauh tertinggal. IEA mencatat total kendaraan berbasis fuel cell secara global baru melampaui 100.000 unit pada akhir 2024, dibandingkan lebih dari 60 juta kendaraan listrik baterai. Artinya, jumlah kendaraan hidrogen hanya sekitar sepersekian dari pasar EV global.

Selain itu, distribusi penggunaannya juga belum merata. CarNewsChina melaporkan, sekitar 70 persen kendaraan fuel cell masih berada di segmen mobil penumpang.

Kendati demikian, pertumbuhan terbesar justru terjadi di kendaraan komersial, terutama di China yang menguasai hampir 95 persen kendaraan komersial berbasis hidrogen secara global.

Tekanan biaya juga tercermin pada performa pasar. BloombergNEF dalam laporan September 2025 mencatat penjualan global truk fuel cell hanya sekitar 1.000 unit pada paruh pertama tahun tersebut, turun setengah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laporan itu menyebut bahwa “biaya kendaraan dan pengisian bahan bakar yang tinggi masih menjadi hambatan adopsi.”

Keterbatasan infrastruktur semakin memperkuat hambatan tersebut. IEA mencatat jumlah stasiun pengisian hidrogen global baru sekitar 1.300 unit hingga akhir 2024. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan lebih dari 5 juta titik pengisian kendaraan listrik publik di seluruh dunia.

Biaya Operasional Tinggi

Biaya pembangunan dan operasional stasiun juga masih tinggi. Studi National Renewable Energy Laboratory (NREL) pada 2025 memperkirakan biaya stasiun dalam bentuk levelized cost berada di kisaran 2,7–12,2 dolar AS per kilogram. Sementara harga hidrogen di tingkat konsumen bisa mencapai 8,1–21,1 dolar AS per kilogram setelah memasukkan biaya produksi dan distribusi.

Tekanan tersebut diperkuat oleh biaya operasional. Studi Rocky Mountain Institute (RMI) pada 6 Februari 2026 menunjukkan bahwa biaya infrastruktur pengisian dapat menggandakan harga hidrogen dari sisi produksi, menandakan bahwa tantangan ekonomi tidak hanya berasal dari bahan bakar, tetapi juga dari ekosistem pendukungnya.

CEO EDP Miguel Stilwell d’Andrade mengatakan pada 23 Juli 2025 bahwa “Hidrogen hijau adalah ekspektasi yang terlalu dibesar-besarkan dan kini berubah menjadi fase kekecewaan,” ujar CEO EDP Miguel Stilwell d’Andrade dikutip dari Reuters, 23 Juli 2025.

Sementara Analis Aurora Energy Research, Emma Woodward, pada tanggal yang sama menyebut bahwa ada alternatif lain yang kemungkinan lebih layak secara komersial untuk banyak sektor.

Dengan kondisi tersebut, pengembangan mobil hidrogen tidak lagi bergantung pada terobosan teknologi semata, melainkan pada kemampuan industri menurunkan biaya produksi, memperluas skala, dan membangun infrastruktur agar dapat bersaing di pasar yang semakin didominasi kendaraan listrik berbasis baterai.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.