KABARBURSA.COM — Industri otomotif Eropa yang selama puluhan tahun dikenal unggul dalam mesin dan rekayasa kini menghadapi perubahan struktur ketergantungan dalam era kendaraan listrik.
Transisi menuju elektrifikasi membuat produsen mobil Eropa semakin bergantung pada baterai buatan China, yang saat ini memasok lebih dari 70 persen baterai kendaraan listrik yang dijual di kawasan tersebut.
Ketergantungan ini disoroti oleh pakar otomotif Jerman, Profesor Ferdinand Dudenhöffer, direktur Pusat Penelitian Otomotif di Bochum, Jerman.
Dudenhöffer menyatakan bahwa kesenjangan teknologi di sektor baterai telah menempatkan Eropa dalam posisi tertinggal jauh dibanding China. “Di sektor baterai, Eropa tertinggal 20 tahun dari China,” kata Dudenhöffer, dilansir dari CarNewsChina, dikutip Kamis, 29 Januari 2026.
Kondisi tersebut membuat kerja sama dengan pemasok China menjadi faktor penting bagi produsen mobil Eropa untuk mempertahankan daya saing di pasar kendaraan listrik. Pada 2025, lebih dari 70 persen baterai yang digunakan pada kendaraan listrik di Eropa dipasok oleh perusahaan China, mencerminkan pergeseran pusat kendali teknologi utama dari Eropa ke Asia.
Ketergantungan ini juga berkaitan dengan perbedaan struktur biaya dan kecepatan pengembangan. Menurut Dudenhöffer, biaya produksi baterai di China sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan Eropa, dengan siklus pengembangan yang dapat dipersingkat hingga 50 persen.
Di sisi lain, produsen baterai Eropa masih menghadapi berbagai kendala. Northvolt dari Swedia dilaporkan menghadapi kebangkrutan akibat kekurangan teknis dan keterlambatan pengiriman, sementara ACC dari Prancis menunda rencana perluasan pabriknya.
Di tengah kondisi tersebut, perusahaan baterai China tidak hanya berperan sebagai pemasok, tetapi juga membangun kehadiran manufaktur langsung di Eropa.
Usaha patungan CATL dengan BMW telah memulai produksi di Jerman, sementara kemitraan BYD dengan Stellantis untuk pengembangan baterai lithium besi fosfat berbiaya rendah telah memasuki tahap produksi massal.
Ketergantungan Eropa pada rantai pasok eksternal juga diperkuat oleh data Badan Energi Internasional yang menunjukkan bahwa China menguasai sekitar 75 persen kapasitas produksi baterai global.
Di Eropa, upaya memperkuat rantai pasok lokal melalui Undang-Undang Bahan Baku Kritis belum mampu menekan biaya, dengan biaya produksi baterai tercatat sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan China dan ketergantungan impor bahan baku penting seperti litium dan nikel yang melebihi 80 persen.
“Jika produsen mobil Eropa terus bergantung pada rantai pasokan lokal yang tidak efisien, mereka akan sepenuhnya kehilangan kesempatan transisi,” ujar Dudenhöffer.
Ia menilai kemitraan antara perusahaan China dan Eropa berpotensi mengubah posisi Eropa dari “pusat konsumsi baterai” menjadi “tempat uji coba teknologi Sino-Jerman.”(*)