Logo
>

Pegawai Ford Diskors Usai Insiden dengan Donald Trump

Kunjungan Donald Trump ke pabrik Ford memicu kontroversi usai cekcok dengan karyawan. Pegawai diskors, publik berdonasi miliaran, dan UAW turun tangan.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Pegawai Ford Diskors Usai Insiden dengan Donald Trump
Bersitegang dengan Donald Trump, salah satu karyawan di Pabrik Ford yang berani malah didukung publik. Ia bisa mendapat dana Rp13 miliar lebih. Foto: dok. Ford

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menjadi sorotan dunia. Di samping kebijakannya yang kontroversial, Donald Trump kembali menyita perhatian publik usai berkunjung ke salah satu fasilitas Ford Motor Company di Amerika Serikat (AS).

    Donald Trump diduga mengacungkan jari tengah dan melontarkan kata kasar kepada seorang karyawan Ford bernama TJ Sabula.

    Insiden tersebut disebut terjadi setelah Sabula melontarkan tudingan keras dengan menyebut Trump sebagai “pelindung pedofil,” yang diduga merujuk pada hubungan Trump dengan mendiang Jeffrey Epstein.

    Kekesalan Sabula kepada Trump juga dilatar belakangi lambannya pemerintah AS dalam merilis informasi terkait kasus tersebut. Pasca-kejadian, TJ Sabula dilaporkan langsung diskors oleh Ford. 

    Carscoops melaporkan, pabrikan otomotif asal Amerika Serikat itu memilih tidak banyak berkomentar terkait insiden yang mencoreng kunjungan di pabrik mobil berlogo biru oval tersebut.

    Terkait kasus Sabula dan Trump, Ford hanya menegaskan komitmen terhadap nilai perusahaan yang tidak mendukung tindakan tersebut.

    “Salah satu nilai inti kami adalah rasa hormat, dan kami tidak mentolerir siapa pun yang mengatakan hal yang tidak pantas seperti itu di dalam fasilitas kami. Ketika itu terjadi, kami memiliki proses untuk menanganinya, tetapi kami tidak akan membahas masalah kepegawaian tertentu,” tulis Ford dalam pernyataannya yang dikutip, Senin, 19 Januari 2026.

    Di sisi lain, serikat pekerja United Auto Workers (UAW) menyatakan akan memberikan perlindungan penuh kepada Sabula sebagai anggotanya. Laura Dickerson dari UAW menegaskan bahwa organisasi buruh tidak akan tinggal diam dan akan mendukung hak pekerja.

    "Kami memastikan bahwa anggota kami menerima perlindungan penuh dari semua klausul kontrak yang telah dinegosiasikan untuk melindungi pekerjaannya dan hak-haknya sebagai anggota serikat pekerja," sebutnya.

    Dickerson juga menambahkan, Sabula berhak dilindungi termasuk dari perlakukan tokoh sekelas presiden pun. 

    “Para pekerja tidak boleh pernah menjadi sasaran bahasa atau perilaku vulgar oleh siapa pun, termasuk Presiden Amerika Serikat," katanya.

    Menariknya, simpati publik terhadap Sabula justru justru mengalir deras. Dua kampanye dari situs penggalangan dana GoFundMe yang dibuat atas namanya, dilaporkan telah mengumpulkan total dana sebesar USD811.010 atau setara lebih dari Rp13 miliar.

    Salah satu penggalangan dana yang diklaim dimulai oleh teman pribadi lama keluarga Sabula mulanya berhasil mendulang USD330.085 (Rp5,5 miliar) sebelum akhirnya dijeda. 

    Sementara kampanye kedua pada situs tersebut dibuat oleh Sean Williams asal South Carolina. Inisiatifnya mampu mengumpulkan USD480.925 (Rp8,1 miliar) meskipun akhirnya juga ditangguhkan oleh pihak GoFundMe.

    GoFundMe menyatakan penangguhan dilakukan karena mereka “sedang memeriksa apakah penggalangan dana tersebut memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku” serta sesuai dengan ketentuan layanan platform.

    Jika dana tersebut akhirnya bisa dicairkan, nilai donasi yang diterima Sabula berpotensi jauh melampaui pendapatannya sebagai karyawan Ford. 

    Peristiwa ini bukan hanya kontroversi politik dalam lingkup otomotif AS, tetapi juga fenomena sosial dan ekonomi yang menyita perhatian publik global.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Harun Rasyid

    Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.