KABARBURSA.COM - Pengamat Otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai target pemerintah terlalu besar terkait subsidi kendaraan listrik tahun 2026. Menurutnya, target 100 ribu unit untuk motor listrik terlampau jauh jika melihat angka penjualan tahun 2025.
Berdasarkan data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), penjualan Electric Vehicle (EV) roda dua sepanjang 2025 mencapai 55.019 unit.
"Target 100 ribu unit motor listrik sangat ambisius dan sulit tercapai murni dari pembeli individu di sisa waktu 7 bulan ini. Penurunan subsidi dari Rp7 juta (tahun 2023-2024) menjadi Rp5 juta, adalah stress-test yang perlu kita lihat dampaknya pada konsumen kelas menengah bawah yang sangat sensitif terhadap harga (price-sensitive)," ujarnya saat dihubungi KabarBursa.com, belum lama ini.
Sekadar informasi, subsidi kendaraan listirk 2026 akan dimulai pada Juni mendatang dengan alokasi 100 ribu unit untuk motor listrik dengan insentif Rp5 juta per unit, dan 100 ribu unit untuk mobil listrik dengan insentif PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah).
Meski demikian, Yannes menyebut target 100 ribu unit pada subsidi motor listrik bisa lebih optimal apabila dimanfaatkan konsumen non-ritel seperti instansi atau perusahaan.
"Saya lihat penyelamat target 100 ribu unit ini diproyeksikan berasal dari serapan armada ojek online atau pengadaan instansi (B2G). Ini baru bisa berhasil mulus jika Menteri Dalam Negeri menegaskan kembali aturan pemerintah perioda lalu yang mewajibkan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pemerintah kota, berbagai unit kementerian, kepolisian dan TNI segera menjalankan pembelian armada barunya dengan EV ini," jelasnya.
Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menilai, subsidi kendaraan listrik 2026 lebih optimal dimanfaatkan pihak pemerintah dalam mengoptimalkan kendaraan dinasnya. "Karena ini kan sesungguhnya program yang goverment driven, bukan market driven. Jadi pemerintah tidak boleh lupa itu," katanya.
Begitu juga dengan subsidi mobil listrik, kondisi ekonomi saat ini diproyeksikan menjadi tantangan dalam adopsi EV roda empat bagi konsumen perorangan atau pemilik mobil pribadi.
"Subsidi ini sejatinya sekadar pemantik awal di tengah keengganan konsumen individu yang makin pragmatis akibat tekanan ekonomi, tingkat penyerapan ritel diprediksi hanya akan berkisar di angka 20 persennya," ucap Yannes.
Pengamat tersebut juga memproyeksikan subsidi mobil listrik 2026 akan lebih mendorong permintaan dari konsumen tingkat instansi serta perusahaan.
"Pertumbuhan penjualan justru akan sangat bergantung pada seberapa masif armada operasional perusahaan (B2B), taksi online, dan instansi pemerintah untuk memborong sisa kuota subsidi tersebut," pungkasnya.
Jika mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), target 100 ribu unit dalam subsidi mobil listrik terasa rasional.
Data Wholesales (dari pabrik ke dealer) Gaikindo menyebutkan bahwa penjualan mobil listrik sepanjang Januari sampai November 2025 saja, mencapai 82.525 unit.(*)