KABARBURSA.COM – BYD menghadapi tantangan produksi baterai di tengah naiknya permintaan kendaraan listrik (EV) global.
Presiden BYD Wang Chuanfu mengungkapkan, pertumbuhan penjualan kendaraan BYD tahun ini sangat bergantung pada kemampuan produksi baterai generasi kedua yang disebut Blade Battery 2.0
China EV Home melaporkan, kapasitas baterai saat ini masih menjadi faktor pembatas dalam menghadapi permintaan mobil listrik di pasar China maupun global.
Menurut Wang, perhatian pasar terhadap baterai Blade generasi kedua dan teknologi pengisian daya BYD yakni Megawatt Flash Charging, terhitung sedang tinggi. Namun ia mengaku, kapasitas produksi untuk teknologi tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.
BYD juga tengah mempercepat ekspansi fasilitas produksi baterai dengan penambahan kapasitas. Jumlahnya diklaim setara untuk mendukung produksi 20 ribu hingga 30 ribu kendaraan setiap bulan.
Meski demikian, proses peningkatan kapasitas baterai ini tidak bisa dilakukan secara instan.
Wang menjelaskan, baterai Blade generasi kedua menggunakan sistem material baru, termasuk katoda komposit lithium manganese iron phosphate (LMFP) dan teknologi anoda silikon-karbon.
Teknologi tersebut membutuhkan proses manufaktur yang lebih kompleks dibandingkan baterai konvensional. Akibatnya, sejumlah lini produksi eksisting BYD harus menjalani peningkatan besar-besaran sebelum dapat beroperasi secara optimal.
Di tengah keterbatasan pasokan baterai, penjualan kendaraan BYD masih mencatat pertumbuhan.
Pada Mei 2026, BYD secara akumulatif membukukan penjualan sebanyak 376.990 unit kendaraan penumpang, naik 19,4 persen dibanding April dan meningkat 8,2 persen secara tahunan.
Pertumbuhan paling agresif terjadi dari pasar global. Penjualan kendaraan penumpang dan pikap BYD di luar China mencapai 160.177 unit pada Mei 2026, atau melonjak 80,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja ekspor BYD ini mendorong percepatan pembangunan infrastruktur charging di luar China.
Pada Mei tahun ini, stasiun pengisian cepat pertama BYD untuk pasar Eropa, mulai beroperasi di Jerman. Perusahaan menargetkan pembangunan sekitar 3.000 infrastruktur charging cepat di seluruh Eropa hingga akhir 2026.
Jumlah stasiun charging tersebut berada di 300 jaringan dealer BYD di Jerman.
*Ambisi Jadi Produsen Otomotif Nomor Satu Dunia
Dalam ekspansi global, BYD menargetkan angka ekspor sebanyak 1,6 juta kendaraan pada 2026. Wang juga menyebut bahwa pihaknya optimis dapat melampaui target ekspor tersebut.
Untuk menghadapi meningkatnya hambatan perdagangan global, BYD akan memperkuat strategi lokalisasi produksi di sejumlah pasar utama seperti Brasil, Eropa, Thailand, dan India.
Wang optimistis dalam lima tahun ke depan akan menjadi periode pertumbuhan besar bagi merek otomotif asal Tiongkok tersebut.
BYD juga berambisi untuk menjadi produsen otomotif dengan skala terbesar di dunia pada 2030.(*)