KABARBURSA.COM - Toyota mencoba inovasi baru dalam pengembangan kendaraan hidrogen roda dua.
Mengutip Rushlane, teknologi hidrogen jadi langkah alternatif dalam kendaraan ramah lingkungan di samping Battery Electric Vehicle (BEV).
Toyota dilaporkan telah mengajukan paten untuk skuter berbasis sel bahan bakar hidrogen dengan basis skuter Suzuki Burgman 400 generasi lama.
Langkah ini memperlihatkan keseriusan Toyota dalam memperluas penerapan teknologi hidrogen di sektor mobilitas kecil. Toyota sendiri telah memasarkan mobil hidrogen lewat model Mirai yang dapat menjangkau jarak 850 km.
Sebelumnya, Toyota bersama Suzuki diketahui aktif mengembangkan teknologi HySE (Hydrogen Small Mobility & Engine) untuk kendaraan ringan berbahan bakar hidrogen.
Paten terbaru Toyota ini, diyakini merupakan pengembangan lebih lanjut dari prototipe Burgman Fuel Cell yang pertama kali diperkenalkan pada 2011.
Sementara itu, Suzuki juga sempat memamerkan konsep Burgman berbasis Hydrogen Internal Combustion Engine (HICE) di ajang Japan Mobility Show 2023.
Salah satu poin yang menarik dari paten tersebut adalah penggunaan tangki hidrogen yang dapat dilepas atau removable tank.
Posisi tabung ditempatkan di area pijakan kaki pengendara. Penempatan ini mirip sistem baterai lepas-pasang yang biasa ditemui pada motor listrik modern.
Konsep ini dinilai dapat memangkas persoalan utama kendaraan hidrogen, yakni keterbatasan infrastruktur stasiun pengisian bahan bakar hidrogen.
Lewat inovasi tersebut, pengguna Suzuki Burgman hidrogen nantinya cukup menukar tabung hidrogen yang sudah habis dengan tabung baru tanpa perlu mengisi ulang langsung di SPBU hidrogen.
Dalam dokumen patennya, Toyota juga memperlihatkan dua mekanisme pelepasan tabung. Sistem pertama menggunakan engsel untuk menggeser dudukan silinder ke samping, sedangkan metode kedua memakai mekanisme yang dapat menarik dudukan tabung keluar.
Toyota tampaknya tidak hanya fokus pada efisiensi teknologi sel bahan bakar, tetapi juga mempertimbangkan aspek keamanan dan kemudahan penggunaan sehari-hari.
Sistem tabung isi ulang tersebut dinilai mampu menjaga kualitas hidrogen tetap bersih dan meminimalkan risiko kontaminasi saat proses distribusi.
Secara teknologi, sel bahan bakar hidrogen juga dinilai lebih ramah lingkungan dibanding mesin pembakaran hidrogen atau HICE.
Jika hidrogen diproduksi dari energi terbarukan seperti tenaga surya, maka kendaraan hanya menghasilkan emisi berupa air dari lubang knalpot. Sebaliknya, mesin HICE masih berpotensi menghasilkan emisi berupa nitrogen oksida.
Selain Toyota, sejumlah produsen roda dua Asia juga mulai menjajaki teknologi serupa. TVS Motor dan Bajaj Auto di India disebut tengah mengembangkan motor berbahan bakar hidrogen untuk mobilitas masa depan.
Meski begitu, tantangan terbesar kendaraan roda dua hidrogen diperkirakan tetap berada pada biaya produksi dan infrastruktur pendukung.
Pada tahap awal, harga motor hidrogen kemungkinan masih lebih mahal dibanding motor listrik berbasis baterai konvensional.
Lalu akankah Suzuki Burgman hidrogen ini dapat diwujudkan ke tahap produksi massal? Kita lihat saja perkembangannya.(*)