Logo
>

Toyota Ungkap BBM Ideal untuk Mobil Hybrid, Jangan Salah Isi

Penggunaan BBM yang tidak sesuai pada mobil hybrid bisa menurunkan performa hingga merusak mesin. Toyota sarankan RON minimal 91.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Toyota Ungkap BBM Ideal untuk Mobil Hybrid, Jangan Salah Isi
Mobil hybrid Toyota bisa rusak jika pemiliknya asal pilih BBM. Waspada engine knocking hingga turun mesin. Foto: Auto2000

KABARBURSA.COM - Mobil hybrid dapat menjadi alternatif dalam pemilihan kendaraan di tengah ancaman krisis energi.Sebab mobil hybrid menawarkan efisiensi bahan bakar yang lebih dibanding mobil bermesin bakar konvensional.

Untuk merek Toyota, terdapat model Veloz Hybrid hingga Kijang Innova Zenix Hybrid yang bisa dilirik. Keduanya merupakan Multi Purpose Vehicle (MPV) dengan kapasitas tujuh orang penumpang. Sehingga cukup ideal dijadikan kendaraan keluarga.

Namun, dalam kepemilikan mobil hybrid, pengguna perlu memerhatikan spesifikasi bahan bakar yang sesuai untuk menjaga performa hingga kemampuan efisiensi pembakaran mesinnya.

Marketing Division Head Auto2000, Nur Imansyah Tara menyatakan pentingnya penggunaan BBM dengan oktan yang tepat untuk menjaga performa mesin hybrid Toyota.

“Salah satu hal penting dari sebuah mobil hybrid adalah mesin bensin yang efisien tetapi tetap bertenaga. Di bawah kap mesin, tersemat teknologi canggih Dual VVT-i atau katup variabel dengan rasio kompresi mesinnya di atas 13:1," ujarnya lewat keterangan resmi, Senin, 30 Maret 2026.

Tara juga menyebut, mesin Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid memiliki teknologi Dynamic Force Engine. Fungsinya untuk mengoptimalkan pembakaran BBM dengan catatan bahan bakar yang digunakan sesuai rekomendasi pabrikan.

"Bensin sesuai rekomendasi Toyota menjaga proses pembakaran di dalam ruang bakar mesin agar optimal dan menghasilkan tenaga sesuai kebutuhan,“ sebutnya.

Sebaliknya, apabila mobil hybrid menggunakan bensin yang tidak sesuai rekomendasi, dapat menimbulkan berbagai masalah.

Auto2000 sebagai dealer resmi Toyota terbesar di Indonesia mengungkapkan, penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah dari rekomendasi dapat memicu knocking atau detonasi. Artinya pembakaran di dalam dapur pacu terbilang prematur atau sebelum percikan busi terjadi.

Dampaknya, tenaga mesin menurun atau ngempos. Sehingga pengemudi cenderung menekan pedal gas lebih dalam. Kondisi ini tidak hanya menurunkan efisiensi bahan bakar, tetapi juga memperberat kerja mesin.

Gejala knocking biasanya ditandai suara ngelitik saat akselerasi, terutama ketika mobil membawa beban penuh, menanjak, atau saat menyalip kendaraan lain.

Kondisi tersebut umum terjadi saat perjalanan jarak jauh, semisal mudik hingga menempuh rute antar kota sampai antar provinsi.

Selanjutnya, pembakaran yang tidak sempurna akibat pemakaian oktan lebih rendah yakni menimbulkan deposit kotoran di ruang bakar.

Akibatnya, suhu mesin mobil hybrid dapat meningkat dan diikuti kinerja komponen yang tidak optimal.

Jika dibiarkan dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko merusak mesin hingga membutuhkan perbaikan besar atau biasa disebut turun mesin.

Karena itu, penggunaan BBM sesuai rekomendasi pabrikan menjadi kunci dalam menjaga performa sekaligus efisiensi kendaraan hybrid.

Sebagai acuan, Toyota merekomendasikan penggunaan bensin dengan RON (Research Octane Number) minimal 91 atau lebih tinggi agar mesin bekerja optimal.

Di Indonesia, BBM RON 91 tidak ada dipasaran. Artinya pengguna mobil hybrid Toyota direkomendasikan mengisi BBM RON 92 seperti Pertamax, Shell Super, Vivo Revvo 92 atau BP 92.

Sementara penggunaan bensin dengan RON di bawah 91 seperti Pertalite untuk mobil hybrid, dikhawatirkan memicu beberapa masalah di atas.

Sebagai informasi, pemilik mobil hybrid Toyota juga dapat melihat spesifikasi oktan yang sesuai di  buku manual kendaraan atau berkonsultasi dengan layanan purna jual di bengkel resmi Toyota.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.