KABARBURSA.COM — Kenaikan harga minyak dunia di tengah konflik geopolitik dinilai membuka peluang bagi investor untuk mencari alternatif investasi pada komoditas energi dan perkebunan. Dalam situasi harga minyak yang bertahan tinggi dalam jangka panjang, saham sektor batu bara dan minyak sawit mentah atau CPO dipandang dapat menjadi salah satu pilihan investasi.
Stockbit Sekuritas menilai kondisi tersebut dapat mendorong minat investor terhadap emiten berbasis komoditas energi dan perkebunan yang selama ini memiliki korelasi dengan pergerakan harga minyak global.
“Sektor batu bara seperti Adaro Andalan Indonesia (AADI) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) serta sektor CPO seperti Triputra Agro Persada (TPAG) dan Dharma Satya Nusantara (DSNG) dapat menjadi pilihan bagi investor dalam skenario harga minyak yang tinggi secara berkepanjangan,” tulis Stockbit Sekuritas dalam risetnya, Jumat, 13 Maret 2026.
Lonjakan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Harga minyak mentah Brent untuk kontrak Mei 2026 tercatat naik sekitar 6,7 persen hingga mencapai USD98,1 per barel atau sekitar Rp1,65 juta per barel pada perdagangan Kamis sore.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah dua perkembangan besar di pasar energi global. Pertama, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency sepakat melepas cadangan minyak strategis sebesar 400 juta barel pada Rabu 11 Maret. Pelepasan tersebut menjadi yang terbesar sepanjang sejarah lembaga tersebut dan bertujuan meredam lonjakan harga minyak.
Kedua, ketegangan di kawasan Teluk Persia semakin meningkat setelah tiga kapal dilaporkan terkena proyektil di Selat Hormuz dan Teluk Persia. Insiden itu terjadi setelah Garda Revolusi Iran menyatakan telah menembaki kapal yang dianggap tidak mematuhi perintah mereka.
Juru bicara militer Iran Ebrahim Zolfaqari bahkan memperingatkan bahwa negaranya tidak akan mengizinkan pengiriman minyak bagi Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya. Ia juga menyampaikan bahwa harga minyak berpotensi melonjak jauh lebih tinggi jika konflik terus meningkat.
“Kami tidak akan mengizinkan pengiriman minyak bagi Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya,” ujar Zolfaqari.
Kenaikan harga minyak tersebut menunjukkan bahwa pasar masih mencemaskan prospek pasokan energi global. Penutupan Selat Hormuz diperkirakan dapat mengganggu distribusi sekitar 20 juta barel minyak per hari.
Meski Badan Energi Internasional telah memutuskan melepas cadangan minyak dalam jumlah besar, volume tersebut masih relatif kecil dibandingkan pasokan yang melewati jalur Selat Hormuz.
Menurut analisis Macquarie, pelepasan cadangan minyak oleh negara anggota IEA hanya setara sekitar 16 hari dari total volume minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz. Pasar juga masih menunggu kejelasan jadwal dan laju pelepasan harian cadangan minyak tersebut.
Secara keseluruhan negara anggota IEA memiliki cadangan minyak sekitar 1,2 miliar barel di luar persediaan komersial wajib sekitar 600 juta barel. Dalam riset sebelumnya, Stockbit Sekuritas menyebut ada dua faktor utama yang berpotensi menurunkan kembali harga minyak dunia.
Pertama adalah intervensi pasokan melalui pelepasan cadangan minyak. Kedua adalah pelemahan permintaan akibat kebijakan suku bunga yang lebih ketat di berbagai negara.
Namun dengan kondisi pasar yang masih meragukan efektivitas intervensi IEA, terlihat dari harga minyak yang kembali naik, maka kemungkinan penurunan permintaan akibat kebijakan moneter ketat menjadi semakin terbuka jika konflik dan penutupan Selat Hormuz berlangsung lama.
Bagi Indonesia, harga minyak yang tinggi berpotensi memberi tekanan pada anggaran pendapatan dan belanja negara karena meningkatnya beban subsidi energi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga bahan bakar minyak atau penyesuaian belanja pemerintah.
Meski demikian secara historis kenaikan harga minyak juga sering diikuti kenaikan harga batu bara dan CPO yang merupakan dua komoditas ekspor utama Indonesia.
Dengan demikian dampak terhadap perekonomian nasional akan sangat bergantung pada dinamika harga ketiga komoditas tersebut. Tekanan inflasi global yang meningkat juga berpotensi mendorong Bank Indonesia mengikuti arah pengetatan suku bunga global.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.