Logo
>

BRPT Bukukan Laba Besar, Buyback Jalan, Harga Masih Lesu

Kinerja BRPT melonjak tajam didorong lonjakan laba dan pendapatan, di saat yang sama buyback Rp1 triliun berjalan di tengah pergerakan saham yang masih fluktuatif.

Ditulis oleh Yunila Wati
BRPT Bukukan Laba Besar, Buyback Jalan, Harga Masih Lesu
Saham BRPT masih tertahan meskipun laporan keuangannya mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak hingga 767,3 persen. (Foto: dok Barito Pacific)

KABARBURSA.COM – Di tengah pergerakan saham yang masih berfluktuasi sejak awal tahun, kinerja keuangan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) justru mencatat lonjakan yang jauh melampaui tahun sebelumnya. 

Perubahan ini tidak hanya terlihat dari sisi laba, tetapi juga dari ekspansi pendapatan dan struktur neraca yang bergerak agresif sepanjang 2025.

Sepanjang tahun buku 2025, BRPT membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD489,81 juta, melonjak 767,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD56,48 juta. 

Kenaikan ini berjalan seiring dengan lonjakan pendapatan yang mencapai USD7,63 miliar, meningkat 219,7 persen dibandingkan capaian 2024 yang sebesar USD2,39 miliar.

Beban Bahan Baku dan Biaya Produksi Meningkat

Di balik lonjakan tersebut, beban juga mengalami peningkatan yang signifikan. Beban bahan baku serta biaya produksi dan manufaktur tercatat naik 324,9 persen menjadi USD7,08 miliar dari USD1,67 miliar pada tahun sebelumnya. 

Kenaikan ini menunjukkan ekspansi operasional berjalan seiring dengan peningkatan skala bisnis yang cukup agresif.

Perubahan paling mencolok terlihat pada laba sebelum pajak yang mencapai USD1,6 miliar atau meningkat 616,6 persen secara tahunan. Angka ini terutama dipengaruhi oleh keuntungan dari pembelian dengan diskon sebesar USD1,87 miliar, yang menjadi salah satu komponen utama dalam pembentukan laba selama periode tersebut.

Dengan adanya manfaat pajak penghasilan neto sebesar USD12,65 juta, laba tahun berjalan tercatat sebesar USD1,62 miliar atau meningkat 1.214,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun dari total tersebut, porsi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar USD489,81 juta, mencerminkan distribusi hasil usaha dalam struktur grup yang lebih luas.

Dari sisi neraca, ekspansi juga terlihat cukup jelas. Total aset BRPT mencapai USD17,35 miliar pada akhir 2025, meningkat 64,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Posisi kas dan setara kas tercatat sebesar USD3,01 miliar, naik 87,1 persen dari USD1,61 miliar, menunjukkan adanya penguatan likuiditas di tengah ekspansi tersebut.

Di sisi lain, total liabilitas meningkat menjadi USD11,31 miliar atau naik 78,2 persen secara tahunan. Sementara itu, ekuitas juga tumbuh menjadi USD6,05 miliar dari USD4,19 miliar, atau meningkat 44,4 persen, mencerminkan penguatan struktur modal meskipun diiringi dengan kenaikan kewajiban.

Aksi Buyback Masih Berlangsung

Di tengah perubahan fundamental tersebut, BRPT juga mengambil langkah di pasar modal melalui aksi pembelian kembali saham. Perusahaan menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun untuk buyback saham yang dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan, mulai 4 Februari hingga 3 Mei 2026.

Pelaksanaan buyback ini dilakukan melalui pasar reguler Bursa Efek Indonesia dengan menunjuk PT Sucor Sekuritas sebagai pelaksana. Manajemen menyatakan bahwa seluruh dana berasal dari kas internal dan tidak akan mengganggu operasional, kebutuhan modal kerja, maupun arus kas perusahaan.

Dalam keterangannya, manajemen juga menyebut bahwa aksi buyback tidak memberikan dampak material terhadap pendapatan maupun kinerja usaha. Saham hasil pembelian kembali akan dicatat sebagai treasury stock yang dapat dialihkan kembali sesuai dengan ketentuan pasar modal yang berlaku.

Saham Bergerak Volatil

Pergerakan saham BRPT sendiri sepanjang awal tahun memperlihatkan volatilitas yang cukup tinggi. Harga sempat menembus level Rp2.900 pada pertengahan Januari, sebelum kemudian mengalami penurunan ke kisaran Rp2.000 hingga Rp2.100 menjelang akhir bulan.

Memasuki periode pelaksanaan buyback pada awal Februari, harga berada di sekitar Rp1.980 per saham. Sementara pada perdagangan terakhir, Selasa, 31 Maret 2026, saham BRPT ditutup di level 1.360 atau menguat 2,26 persen, setelah bergerak dalam rentang intraday antara 1.290 hingga 1.435 dengan rata-rata transaksi di kisaran 1.367.

Volume perdagangan tercatat sebesar 894,12 ribu lot dengan nilai transaksi mencapai Rp122,3 miliar, menunjukkan aktivitas yang tetap terjaga di tengah pergerakan harga yang masih berada jauh di bawah level awal tahun.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79