KABARBURSA.COM - PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI mencatat performa positif pada sektor pembiayaan griya seiring mulai pulihnya daya beli masyarakat serta meningkatnya kebutuhan hunian nasional. Hingga Maret 2026, portofolio pembiayaan perumahan perseroan tercatat telah menembus kisaran Rp60 triliun, menjadikannya salah satu motor penggerak utama pertumbuhan pembiayaan konsumer perusahaan.
Perseroan menyebut segmen griya masih menjadi ceruk strategis yang memiliki prospek ekspansi sangat besar di tengah tingginya kebutuhan rumah masyarakat, khususnya pada segmen pembelian rumah pertama.
Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, mengatakan pembiayaan griya tetap menjadi fokus utama perseroan karena permintaan pasar yang terus menunjukkan tren meningkat. Menurutnya, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional mulai kembali menguat dan berdampak pada peningkatan minat kepemilikan rumah.
“Segmen griya menjadi salah satu katalis utama pertumbuhan pembiayaan konsumer BSI. Kebutuhan masyarakat terhadap hunian masih sangat tinggi, terutama untuk pembelian rumah pertama. Kondisi ini selaras dengan membaiknya daya beli masyarakat dan meningkatnya keyakinan terhadap prospek ekonomi nasional,” ujar Erwan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa 19 Mei 2026.
Ia menambahkan, pertumbuhan pembiayaan griya turut ditopang beragam skema produk kompetitif yang ditawarkan perseroan. Mulai dari angsuran tetap hingga akhir tenor, fasilitas free appraisal, harga khusus pada pengembang rekanan tertentu, hadiah BSI Emas, hingga berbagai program promosi lain yang dirancang untuk menarik minat konsumen.
Tak hanya memperkuat penetrasi pada segmen komersial, BSI juga terus memperluas dukungannya terhadap program kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Hingga akhir Maret 2026, portofolio FLPP perseroan tercatat telah melampaui Rp5,7 triliun.
Perseroan juga melihat tren pemesanan atau booking pembiayaan griya masih bergerak positif. Permintaan terbesar berasal dari pembelian rumah pertama dengan rentang harga sekitar Rp500 juta hingga Rp1 miliar. Selain itu, kebutuhan pembiayaan juga datang dari layanan take over, renovasi rumah, hingga kebutuhan hunian lainnya yang terus meningkat di tengah pertumbuhan kawasan urban.
BSI menyampaikan bahwa saat ini perseroan berada dalam jajaran enam besar bank penyalur pembiayaan perumahan nasional dengan kualitas pembiayaan yang tetap terjaga. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan soliditas bisnis sekaligus kemampuan perseroan menjaga keseimbangan antara ekspansi dan prinsip kehati-hatian.
Perseroan juga optimistis sektor properti residensial masih memiliki ruang pertumbuhan luas, terutama dengan adanya dukungan pemerintah melalui Program 3 Juta Rumah serta prospek konsumsi domestik yang dinilai terus membaik dalam beberapa tahun mendatang.
Sebagai informasi, hingga Maret 2026 total pembiayaan BSI tercatat mencapai Rp329 triliun. Dari jumlah tersebut, segmen konsumer dan emas menjadi kontributor terbesar dengan total pembiayaan mencapai Rp184,27 triliun atau tumbuh 17,59 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan tersebut juga diiringi kualitas pembiayaan yang tetap berada dalam level sehat. Rasio non-performing financing (NPF) pada segmen konsumer tercatat terjaga di bawah 1,5 persen. Angka tersebut merefleksikan strategi kehati-hatian perseroan dalam menjaga kualitas aset sembari tetap melakukan ekspansi bisnis secara berkesinambungan.(*)