KABARBURSA.COM - Platform kolaborasi ekonomi Business 57 Plus (B57+) Asia Pacific Chapter menyoroti posisi nilai tukar rupiah terhadap kondisi perekonomian saat ini.
Rupiah sendiri sempat berada di level Rp17.728 per USD dalam penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Sedangkan pada Kamis ini, pukul 08.35 WIB, rupiah terlihat menguat ke level Rp17.635 per USD.
Eka Sastra, Sekretaris Jenderal B57+ Indonesia mengatakan, pihaknya terus melihat posisi rupiah terhadap USD karena hal ini bakal memengaruhi sejumlah faktor bagi ekonomi hingga keputusan investasi di dalam negeri.
"Pelemahan rupiah tentu perlu dicermati secara serius, karena berdampak pada biaya impor, pembiayaan, dan persepsi investor," ujarnya saat dihubungi KabarBursa.com, Rabu 20 Mei 2026.
Eka lalu menyebut, nilai tukar rupiah yang fluktuatif juga perlu dilihat lebih luas dari sisi perekonomian hingga geopolitik global.
"Kita harus melihatnya dalam konteks global: tekanan dolar AS, arus modal, kebutuhan valas korporasi, dan ketidakpastian geopolitik ikut memengaruhi mata uang emerging markets," sebutnya.
Reuters mencatat rupiah sempat menyentuh rekor lemah sekitar Rp17.745 per dolar AS, dan Bank Indonesia merespons dengan kenaikan suku bunga 50 basis point (Bps) untuk menjaga stabilitas.
Meski demikian, B57+ Asia Pacific Chapter sebagai platform kolaborasi ekonomi dan bisnis di bawah naungan Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD), melihat pelemahan rupiah sebagai pemacu untuk melakukan penguatan bisnis dan investasi yang berdampak positif mata uang garuda.
"Bagi B57+, situasi ini justru memperkuat urgensi untuk meningkatkan ekspor halal, dorong investasi produktif, mengurangi ketergantungan impor memperkuat value chain domestik dan memperluas pasar non-tradisional," jelas Eka.
"Jadi, pelemahan rupiah bukan hanya risiko, tetapi juga momentum untuk memperkuat basis produksi dan ekspor nasional," lanjutnya.
Eka menambahkan, B57+ Indonesia berkomitmen untuk menjadi jembatan antara potensi ekonomi umat Indonesia dengan jejaring bisnis global.
Upaya ini diharapkan dapat menghasilkan investasi sampai penciptaan lapangan kerja sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi halal global.
"Fokus kami bukan hanya membangun forum, tetapi membangun ekosistem yang menghasilkan investasi, perdagangan, lapangan kerja, dan penguatan posisi Indonesia dalam ekonomi halal dunia," pungkas Eka.