KABARBURSA.COM - Pergerakan saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) pada sesi kedua perdagangan Rabu, 8 April 2026, menunjukkan satu anomali yang cukup kontras antara arus dana asing dan respons harga di pasar.
Di saat asing justru mencatatkan tekanan jual bersih, harga saham ini malah melesat signifikan hingga 5,42 persen ke level 428.
Secara data, asing membukukan net sell sebesar 41,94 juta saham, dengan total penjualan mencapai 88,10 juta saham berbanding pembelian 46,16 juta saham. Tekanan ini secara teori seharusnya menahan atau bahkan menekan harga, namun yang terjadi justru sebaliknya.
Harga bergerak naik dari level pembukaan 406 hingga sempat menyentuh 444 sebelum ditutup di area 428, dengan rata-rata transaksi di 429.
Ketidaksinkronan antara arus asing dan harga ini mulai terjawab ketika melihat struktur broker. Pada sisi pembelian, aktivitas didominasi oleh broker domestik dengan nilai yang cukup besar dan tersebar.
Stockbit Sekuritas Digital (XL) mencatatkan pembelian Rp10,1 miliar di harga rata-rata 413, diikuti Sinarmas Sekuritas (DH) Rp9,3 miliar di 411, serta Indo Premier Sekuritas (PD) Rp3,5 miliar dan Trimegah Sekuritas Indonesia (LG) Rp3 miliar di kisaran 413–414.
Aliran beli ini tidak hanya besar secara nominal, tetapi juga konsisten mengisi di bawah harga pasar.
Sebaliknya, tekanan jual memang datang dari beberapa broker besar, dengan UBS Sekuritas Indonesia (AK) mencatatkan penjualan Rp27 miliar di harga rata-rata 414. Di bawahnya, JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) melepas Rp5,4 miliar di 411 dan Mandiri Sekuritas (CC) sekitar Rp4 miliar di 412.
Struktur ini memperlihatkan bahwa supply yang dilepas di kisaran bawah langsung terserap oleh pihak pembeli yang aktif menumpuk posisi.
Jika ditarik ke struktur orderbook, pola penyerapan ini terlihat semakin jelas. Total antrian bid mencapai 1,11 juta lot dengan frekuensi 3.092 kali, lebih besar dibandingkan sisi offer yang berada di 917 ribu lot dengan frekuensi 3.948 kali.
Pada level harga terdekat, bid di 426 menumpuk 39.685 lot, sementara offer di 428 hanya 6.466 lot, menciptakan ketimpangan yang mendukung pergerakan harga ke atas.
Lapisan bawah juga menunjukkan dukungan yang konsisten. Bid di 424 mencapai 61.904 lot dan di 422 sebesar 53.654 lot, membentuk fondasi likuiditas yang tebal.
Sementara di sisi atas, meskipun terdapat antrian besar seperti di level 440 sebesar 86.130 lot, tekanan tersebut tetap mampu ditembus dalam sesi perdagangan, tercermin dari harga tertinggi yang sempat menyentuh 444.
Dari sisi aktivitas transaksi, volume mencapai 4,88 juta lot dengan nilai Rp209,5 miliar, menunjukkan adanya partisipasi yang cukup aktif. Namun yang menarik, frekuensi transaksi tidak terlalu ekstrem dibandingkan besaran lot, yang mengindikasikan adanya transaksi dengan ukuran relatif besar.
Kombinasi data ini memperlihatkan bahwa kenaikan harga BULL tidak didorong oleh aliran asing, melainkan oleh kekuatan domestik yang menyerap supply secara agresif. Ketika asing melepas saham dalam jumlah besar, sisi pembeli justru hadir dengan kapasitas yang cukup untuk menahan tekanan tersebut, bahkan mendorong harga naik.
Dalam struktur seperti ini, pergerakan harga tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh arah asing, tetapi oleh keseimbangan antara supply yang dilepas dan daya serap di sisi bid. Pada sesi ini, daya serap tersebut terlihat lebih dominan, sehingga tekanan jual yang besar tidak serta-merta mengubah arah harga.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.