KABARBURSA.COM – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) resmi menetapkan pembagian dividen jumbo sebesar USD450 juta untuk tahun buku 2025. Dari jumlah tersebut, USD250 juta sebenarnya sudah lebih dulu dibayarkan sebagai dividen interim pada November tahun lalu.
Artinya, investor kini tinggal menunggu distribusi dividen final sebesar USD200 juta yang baru disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Jumat, 22 Mei 2026.
Namun menariknya, di tengah kabar pembagian dividen besar itu, pergerakan saham AADI justru tidak sepenuhnya nyaman.
Sepanjang sepekan terakhir, saham emiten batu bara milik kongsi Boy Thohir, Edwin Soeryadjaya, dan TP Rachmat ini bergerak sangat volatile. AADI sempat jatuh tajam sebelum akhirnya mencoba bangkit di akhir pekan.
Pada perdagangan 19 Mei 2026, saham AADI ambruk 750 poin atau 8,38 persen ke level 8.200. Tekanan belum langsung berhenti karena sehari setelahnya saham masih melemah tipis ke 8.125.
Padahal pada hari itu asing justru masuk cukup besar.
Data perdagangan menunjukkan net foreign buy AADI pada 20 Mei mencapai Rp61,76 miliar. Nilai pembelian asing bahkan tembus Rp154,61 miliar dengan total nilai transaksi mencapai Rp262,92 miliar.
Situasi tersebut memperlihatkan adanya perebutan saham yang cukup agresif di area bawah.
Namun tekanan kembali datang sehari kemudian.
Pada 21 Mei, AADI turun lagi 4,31 persen ke level 7.775. Kali ini asing benar-benar melepas barang dalam jumlah besar.
Net foreign sell tercatat mencapai Rp88,39 miliar, dan menjadi tekanan jual asing terbesar dalam sepekan. Nilai penjualan asing bahkan mencapai Rp126,60 miliar, jauh lebih besar dibanding pembelian yang hanya Rp38,21 miliar.
Tekanan jual tersebut membuat AADI sempat menyentuh level terendah harian di 7.750.
Baru pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, saham AADI mulai menunjukkan pantulan. Harga ditutup naik 450 poin atau 5,79 persen ke level 8.225.
Kenaikan itu sekaligus menjadi rebound terbesar AADI dalam sepekan terakhir.
Meski begitu, arus dana asing ternyata belum benar-benar balik arah. Di tengah kenaikan harga hampir 6 persen tersebut, asing masih tercatat melakukan net sell Rp9,76 miliar.
Data transaksi memperlihatkan pembelian asing mencapai Rp51,07 miliar, tetapi penjualan masih lebih besar di angka Rp60,84 miliar.
Kondisi itu memperlihatkan rebound AADI sejauh ini belum sepenuhnya ditopang akumulasi asing yang kuat.
Jika ditarik selama lima hari perdagangan terakhir, pola transaksi AADI terlihat sangat agresif. Saham bergerak dalam rentang lebar dari area tertinggi 9.125 pada 18 Mei hingga sempat turun ke 7.750 pada 21 Mei.
Artinya, hanya dalam beberapa hari, saham AADI sempat terkoreksi lebih dari 15 persen dari level tertingginya sebelum akhirnya memantul lagi pada akhir pekan.
Pergerakan liar tersebut muncul di tengah kombinasi sentimen yang saling bertabrakan.
Di satu sisi, pasar menyambut positif keputusan dividen jumbo AADI. Dividen interim sebelumnya bahkan setara Rp538,08 per saham, sehingga investor masih menunggu potensi besaran dividen final setelah kurs diumumkan.
Namun di sisi lain, pasar juga mulai mencermati penurunan laba bersih AADI sepanjang 2025.
Perusahaan membukukan laba bersih USD760,18 juta atau turun 37,2 persen secara tahunan. Penurunan tersebut membuat sebagian pelaku pasar mulai lebih sensitif terhadap valuasi dan prospek kinerja batu bara ke depan.
Meski demikian, aktivitas perdagangan AADI selama sepekan menunjukkan satu hal penting: saham ini masih menjadi arena transaksi besar.
Nilai perdagangan harian konsisten berada di atas Rp140 miliar bahkan sempat menembus Rp554 miliar pada 19 Mei. Frekuensi transaksi juga relatif tinggi dengan volume perdagangan mencapai ratusan ribu lot setiap hari.
Artinya, meski tekanan jual asing sempat mendominasi, minat pasar terhadap saham AADI belum benar-benar surut.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.