Logo
>

Jajaki Peluang Lintas Sektor, B57+ Ungkap Kendala Investasi di RI

Forum bisnis negara-negara OKI mulai membuka penjajakan investasi dari halal food hingga ekonomi digital di tengah dorongan memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi syariah global

Ditulis oleh Harun Rasyid
Jajaki Peluang Lintas Sektor, B57+ Ungkap Kendala Investasi di RI
B57+ Indonesia ungkap berbagai peluang hingga hambatan dalam invetasi di dalam negeri. Foto: KabarBursa.com/Gusti Ridani.

KABARBURSA.COM - Forum bisnis B57+ terus berupaya membuka peluang investasi ke dalam negeri. B57+ sendiri berisi 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Dalam hal ini, B57+ Indonesia ingin menjembatani antara potensi ekonomi umat Indonesia dengan jejaring bisnis global.

"Fokus kami bukan hanya membangun forum, tetapi membangun ekosistem yang menghasilkan investasi, perdagangan, lapangan kerja, dan penguatan posisi Indonesia dalam ekonomi halal dunia," ujar Eka Sastra, Sekretaris Jenderal B57+ Indonesia saat dihubungi KabarBursa.com, Rabu 20 Mei 2026.

Ia menyatakan, B57+ tengah menjajaki potensi investasi lintas sektor dalam ekonomi Islam. Namun sementara ini B57+ Indonesia belum bisa mengumumkan secara terbuka terkait pihak, maupun kerja sama yang tengah dijajaki tersebut.

"Saat ini beberapa peluang investasi dan kerja sama sedang terus dijajaki, terutama pada sektor halal food, Islamic finance, logistics, digital economy, tourism, dan SME (Small-Medium Enterprise) development," sebut Eka.

"Untuk investasi yang bersifat resmi, kami akan menyampaikannya setelah ada kesepakatan yang sudah final dan dapat diumumkan bersama para pihak terkait," sambungnya.

Menurut Eka, B57+ terus mendorong perannya sebagai deal facilitator untuk membantu mengubah pertemuan bisnis menjadi pipeline investasi, kerja sama perdagangan, hingga proyek riil di Indonesia.

Soal daya tarik, Indonesia disebut memiliki nilai lebih sebagai salah satu negara dengan peringkat tinggi dalam ekosistem ekonomi berbasis Islam.

"Dalam SGIE (State of Global Islamic Economy) Report 2024/2025, Indonesia mempertahankan posisi peringkat ketiga dalam Global Islamic Economy Indicator, yang menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi syariah Indonesia semakin diakui secara global," ungkap Eka.

Di sisi lain, ia juga menyebutkan beberapa hambatan yang perlu dibenahi dalam mendorong investasi di dalam negeri.

"Secara umum, investor melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat menarik. Namun ada beberapa isu yang masih perlu diperbaiki agar investasi, khususnya di sektor halal dan ekonomi syariah, bisa lebih cepat masuk," ucap Eka.

Adapun beberapa kendala yang sering muncul dalam investasi di Indonesia menurut pandangan B57+ yaitu kepastian regulasi, kecepatan perizinan, standardisasi halal lintas negara, kesiapan data proyek investasi, kemudahan repatriasi dan pembiayaan, infrastruktur logistik, serta kejelasan mitra lokal yang kredibel.

Meski begitu, hambatan tersebut coba dipandang positif. B57+ menyatakan siap membantu dan mempertemukan pihak terkait dalam membuka peluang investasi.

"Di sinilah B57+ bisa mengambil peran menjadi trusted platform yang mempertemukan investor dengan proyek yang jelas, mitra yang kredibel, dan dukungan kelembagaan yang baik," pungkas Eka. (*)
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.