KABARBURSA.COM – PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) atau SIG tetap membagikan dividen tunai kepada pemegang saham meski laba bersih perseroan sepanjang 2025 masih bergerak tipis. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Jumat, 8 Mei 2026, pemegang saham menyetujui pembagian dividen final sebesar Rp28,33 per saham.
Dividen tersebut berasal dari laba bersih tahun buku 2025 yang tercatat sebesar Rp190,85 miliar. Dengan keputusan itu, total dana yang digelontorkan SMGR untuk dividen mencapai sekitar Rp191 miliar.
Porsi terbesar tentu mengalir ke PT Danantara Asset Management (Persero) yang kini menggenggam sekitar 50,691 persen saham SMGR. Dari pembagian tersebut, Danantara diperkirakan menerima dana sekitar Rp96,96 miliar.
Sementara sisanya akan dibagikan kepada investor publik dan pemegang saham lainnya, termasuk sejumlah investor institusi, mutual fund, hingga sovereign wealth fund yang tercatat sebagai pemegang saham publik SMGR.
Profitabilitas Tertekan
Keputusan pembagian dividen ini menjadi menarik karena datang di tengah kondisi profitabilitas SMGR yang masih menghadapi tekanan cukup besar dalam dua tahun terakhir.
Kalau melihat laporan keuangannya, pendapatan SMGR sepanjang 2025 sebenarnya masih tumbuh. Pada kuartal IV-2025, pendapatan mencapai Rp9,93 triliun, naik dibanding kuartal I-2025 sebesar Rp7,65 triliun.
Secara operasional, laba kotor juga masih relatif besar. Pada kuartal IV-2025, laba kotor tercatat Rp2,08 triliun dengan EBITDA kuartalan sekitar Rp1,2 triliun.
Namun tekanan besar terlihat pada bottom line.
Laba bersih SMGR sepanjang 2025 bergerak sangat fluktuatif dan cenderung tipis. Pada kuartal II-2025, laba bersih bahkan nyaris habis di level Rp2 miliar sebelum sempat membaik menjadi Rp123 miliar pada kuartal III-2025.
Di akhir tahun, laba bersih kuartal IV-2025 kembali turun ke sekitar Rp19 miliar. Angka ini jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang masih mencapai Rp30 miliar.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa bisnis semen nasional masih menghadapi tekanan cukup berat, mulai dari kompetisi harga, kenaikan biaya distribusi, hingga tekanan permintaan proyek properti dan konstruksi.
Meski begitu, SMGR masih mampu menjaga operasionalnya tetap positif. EBITDA perusahaan masih berada di atas Rp1 triliun per kuartal sepanjang 2025.
Dari sisi rasio keuangan, kondisi profitabilitas perseroan memang terlihat menurun. Return on equity kuartalan hanya berada di kisaran 0,17 persen pada kuartal IV-2025, sementara return on assets sekitar 0,10 persen.
Interest coverage ratio juga berada di level 1,87 kali, menandakan ruang perusahaan dalam menutup beban bunga masih relatif terbatas dibanding masa sebelum tekanan industri semen meningkat.
Memasuki kuartal I-2026, pasar kini mulai menunggu apakah kinerja SMGR mampu membaik seiring proyek infrastruktur pemerintah yang mulai bergerak kembali dan stabilisasi harga energi.
Sebab selama dua tahun terakhir, cerita SMGR bukan lagi soal ekspansi agresif seperti era booming semen nasional beberapa tahun lalu. Fokus pasar kini bergeser ke efisiensi operasional, kemampuan menjaga margin, dan stabilitas laba di tengah pasar semen yang semakin kompetitif.
Karena itu, pembagian dividen tahun ini terasa cukup simbolis bagi pasar. Nilainya memang tidak besar dibanding masa lalu, tetapi keputusan tetap membagikan dividen menunjukkan SMGR masih berusaha menjaga konsistensi imbal hasil kepada pemegang saham di tengah tekanan profitabilitas.
Danantara menjadi pihak yang paling diuntungkan dari keputusan tersebut, dengan aliran dana hampir Rp97 miliar masuk dari pembagian laba emiten semen pelat merah itu.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.