KABARBURSA.COM – Pergerakan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dalam beberapa waktu terakhir memperlihatkan satu pola yang menarik. Ekspansi bisnis berjalan agresif di dua sisi sekaligus, yakni energi baru terbarukan dan infrastruktur digital.
Sementara di pasar saham, perseroan juga tengah menyiapkan langkah korporasi yang berpotensi mengubah struktur likuiditas melalui stock split.
Dari sisi fundamental bisnis, arah ekspansi DSSA terlihat semakin jelas, yaitu mengarah pada integrasi antara energi dan digital. Melalui pengembangan panas bumi di enam wilayah dengan potensi mencapai 440 MW, DSSA mulai membangun fondasi energi jangka panjang yang berbasis rendah emisi.
Proyek ini tersebar dari Jawa Barat hingga kawasan timur Indonesia, yang artinya ekspansi tidak hanya terpusat, tetapi juga menyasar wilayah dengan potensi sumber daya yang masih terbuka.
Di saat yang sama, pengembangan tenaga surya dengan kapasitas terintegrasi hingga 1 GW di KEK Kendal memperlihatkan bahwa DSSA tidak hanya fokus pada eksplorasi, tetapi juga mulai masuk ke tahap implementasi skala besar.
Kombinasi dua portofolio ini menempatkan DSSA dalam jalur penguatan energi yang tidak lagi bergantung pada satu sumber, melainkan terdiversifikasi.
Pembangunan Fiber Optik
Namun cerita DSSA tidak berhenti di sektor energi. Di sisi lain, perusahaan juga mempercepat pembangunan infrastruktur digital dengan skala yang sudah cukup luas. Jaringan fiber optik sepanjang 57.000 kilometer dengan lebih dari 9 juta homepass menjadi basis distribusi yang signifikan, ditambah dengan sekitar 1 juta pelanggan broadband melalui MyRepublic Indonesia.
Angka ini menunjukkan bahwa bisnis digital DSSA sudah masuk dalam fase operasional yang matang, bukan sekadar pengembangan awal.
Penguatan ini diperluas melalui pembangunan data center yang tersebar di 23 kota strategis. Kehadiran 24 edge data center hingga rencana fasilitas Tier-IV AI-ready di Jakarta dengan kapasitas awal 18 MW menandakan bahwa DSSA mulai masuk ke segmen infrastruktur data dengan tingkat kompleksitas tinggi.
Ini menjadi penting karena kebutuhan data dan komputasi berbasis AI terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Kemitraan dengan IFLYTEK juga mempertegas arah tersebut. Integrasi teknologi berbasis artificial intelligence dan large language model membuka ruang pengembangan layanan digital yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada konektivitas, tetapi juga pada pengolahan data dan solusi industri.
Dengan potensi pasar telekomunikasi sekitar USD29 miliar dan sekitar 50 juta masyarakat yang belum terlayani internet secara optimal, ruang ekspansi ini masih terbuka lebar.
Stock Split dan Dana Asing di DSSA
Di tengah ekspansi tersebut, DSSA juga menyiapkan aksi korporasi berupa stock split dengan rasio 1:25, di mana cum date ditetapkan pada 8 April 2026 dan ex date pada 9 April 2026.
Langkah ini secara struktur akan menurunkan harga nominal saham dan berpotensi meningkatkan aksesibilitas bagi investor ritel, sekaligus memperluas basis likuiditas di pasar.
Jika ditarik ke pergerakan saham, data historis menunjukkan dinamika yang cukup aktif dalam aliran dana, khususnya dari investor asing. Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, arus foreign flow terlihat berfluktuasi dengan pola yang bergantian antara akumulasi dan distribusi.
Pada 30 Maret tercatat net foreign buy sebesar Rp4,22 miliar, diikuti Rp5,04 miliar pada 26 Maret, namun berbalik menjadi net sell Rp11,12 miliar pada 2 April.
Pola ini menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase penyesuaian terhadap valuasi dan sentimen baru yang dibawa oleh ekspansi bisnis dan aksi korporasi. Tidak terlihat adanya tren akumulasi yang konsisten, tetapi juga belum menunjukkan distribusi besar yang berkelanjutan.
Dari sisi harga, pergerakan DSSA bergerak dalam rentang yang cukup lebar dalam beberapa pekan terakhir, mulai dari area 61.450 hingga sempat menyentuh 68.725. Fluktuasi ini mencerminkan adanya tarik-menarik antara ekspektasi pertumbuhan jangka panjang dan realisasi sentimen jangka pendek di pasar.
Dalam keseluruhan gambaran ini, DSSA berada dalam fase transformasi yang cukup kompleks. Di satu sisi, ekspansi bisnis berjalan agresif dan terarah, mencakup energi, digital, hingga AI. Di sisi lain, pasar masih mencerna implikasi dari langkah tersebut, termasuk dampak stock split terhadap struktur perdagangan saham ke depan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.