KABARBURSA.COM – PT Arsy Buana Travetindo Tbk atau HAJJ, mengawali Februari 2026 dengan mencatatkan saham tambahan. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan pada 6 Februari 2026, HAJJ mencatatkan pelaksanaan exercise Waran Seri I yang dilakukan pada 4 Februari 2026, dengan saham baru diterbitkan sehari kemudian, yaitu 5 Februari 2026.
Adapun jumlah waran yang dieksekusi tercatat sebanyak 1.066 waran dan seluruhnya dikonversi menjadi 1.066 saham baru. Angka ini mencerminkan tingkat exercise yang sangat kecil jika dibandingkan dengan total waran yang masih beredar.
Sebelum exercise, jumlah saham beredar HAJJ berada di level 2.468.296.517 saham. Setelah konversi waran tersebut, total saham meningkat menjadi 2.468.297.583 saham, atau bertambah secara nominal tanpa mengubah struktur kepemilikan secara berarti.
Dari perspektif dilusi, penambahan saham ini nyaris tidak memberikan dampak terhadap porsi kepemilikan pemegang saham eksisting maupun terhadap free float. Namun, perhatian utama pasar justru tertuju pada sisa Waran Seri I yang masih sangat besar, yang mencapai 371.882.417 waran.
Jumlah ini jauh melampaui saham yang baru diterbitkan dan menjadi variabel yang lebih krusial untuk membaca potensi suplai saham HAJJ ke depan. Selama waran masih berada dalam periode pelaksanaan, ruang penambahan saham lanjutan tetap terbuka. Hal ini sangat bergantung pada pergerakan harga saham HAJJ dan minat pemegang waran untuk melakukan exercise.
Struktur Kepemilikan HAJJ
Saat ini, pengendali utama HAJJ, PT Madinah Iman, menguasai sekitar 1,60 miliar saham atau setara 64,96 persen dari total saham beredar. Porsi ini menempatkan pengendali pada posisi dominan dan secara efektif membatasi jumlah saham yang benar-benar aktif diperdagangkan di pasar.
Di sisi lain, masyarakat non-warkat memegang sekitar 702,94 juta saham atau 28,48 persen, yang pada praktiknya mencerminkan free float emiten. Sementara itu, PT Abraha Jaya Investama menguasai sekitar 161,95 juta saham atau 6,56 persen sebagai pemegang saham minoritas.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa hampir dua pertiga saham HAJJ terkunci di tangan pemegang saham mayoritas, sementara kurang dari sepertiga tersedia untuk publik. Struktur semacam ini lazim pada emiten papan akselerasi, namun membawa konsekuensi langsung terhadap karakter perdagangan saham.
Dengan free float di kisaran 28 persen, pergerakan harga HAJJ cenderung lebih sensitif terhadap perubahan suplai dan permintaan, terutama ketika volume transaksi relatif tipis.
Dalam kondisi seperti ini, setiap tambahan pasokan saham—termasuk dari exercise waran—berpotensi memberikan pengaruh yang lebih terasa dibandingkan emiten dengan kepemilikan publik yang lebih tersebar.
HAJJ sendiri resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 5 April 2023 melalui papan akselerasi. Harga penawaran umum perdana ditetapkan di level Rp140 per saham, dengan jumlah saham IPO sebanyak 687,1 juta saham dan dana yang dihimpun sekitar Rp96 miliar.
Skala IPO tersebut menempatkan HAJJ sebagai emiten dengan kapitalisasi awal yang relatif kecil, yang sejak awal diarahkan untuk mempercepat akses pendanaan pasar modal bagi perusahaan yang masih berada dalam tahap pengembangan usaha.
Keterlibatan PT Surya Fajar Sekuritas sebagai penjamin emisi serta PT Adimitra Jasa Korpora sebagai biro administrasi efek menunjukkan bahwa proses IPO hingga aksi pasca-pencatatan HAJJ berjalan dalam kerangka administratif yang standar untuk emiten papan akselerasi.
Namun, sejak melantai, struktur kepemilikan yang terkonsentrasi membuat dinamika perdagangan saham HAJJ lebih banyak ditentukan oleh perilaku pemegang saham publik yang terbatas, bukan oleh arus dana institusional besar.
Meski penambahan saham dari exercise Waran Seri I kali ini masih berskala kecil, besarnya sisa waran yang masih menggantung di pasar tetap menjadi faktor penting dalam membaca arah suplai saham HAJJ ke depan.
Dalam struktur free float yang relatif terbatas, setiap konversi waran lanjutan berpotensi memengaruhi keseimbangan perdagangan, baik dari sisi likuiditas maupun tekanan harga, menjadikan waran sebagai elemen kunci dalam dinamika saham HAJJ di pasar sekunder.(*)